N06INDO Dimas Menghantam Peti Mati Dua Kali… Lalu Terdengar Suara dari Dalam

Dimas menatap mata Anindya dari celah peti, lalu berteriak agar semua orang melihat. Bagas mengangkat pistol, tetapi tangannya gemetar hebat ketika para pelayat mulai mendekat.
Maya segera berdiri di depan Dimas. “Turunkan senjatamu, Bagas!” katanya tegas. Untuk pertama kalinya, pria berkuasa itu terlihat kehilangan kendali di hadapan seluruh keluarganya.
Dua petugas keamanan saling berpandangan, ragu mengikuti Bagas. Seorang paman tua maju dan berkata, “Buka petinya sekarang. Kalau Anindya hidup, kita semua berhak mengetahui kebenarannya.”
Bagas mencoba menghentikan mereka, tetapi Maya merebut kesempatan. Ia memerintahkan staf membuka pengunci peti, sementara Dimas menangis sambil terus memanggil nama Anindya dengan putus asa.
Ketika tutup peti akhirnya terangkat, ruangan dipenuhi jeritan. Anindya terbaring hidup, mulut tertutup lakban, tangannya terikat longgar di bawah kain krem yang menutupi tubuhnya.
Maya segera melepaskan lakban itu. Anindya menarik napas panjang, lalu berbisik serak, “Jangan biarkan Bagas pergi.” Semua mata langsung beralih kepada pria yang mulai mundur perlahan.
Bagas menggeleng keras. “Dia bingung! Jangan percaya!” Namun Anindya menatapnya tanpa berkedip. “Aku mendengar suaramu malam itu. Kau sendiri yang memerintahkan mereka memasukkanku ke sini.”
Ruangan mendadak sunyi. Bagas mencoba menyangkal, tetapi seorang pegawai keluarga tiba-tiba maju membawa ponsel. Ia mengaku diam-diam merekam percakapan Bagas dengan dua orang suruhannya semalam.
Rekaman diputar di depan semua orang. Suara Bagas terdengar jelas membicarakan dokumen warisan dan rencana membuat kematian Anindya terlihat alami sebelum surat wasiat keluarga diumumkan.
Maya menutup mulutnya, terpukul. Ternyata Anindya adalah pewaris utama perusahaan keluarga, sedangkan Bagas akan kehilangan kendali bisnis begitu perempuan muda itu resmi menerima warisan ayahnya.
Bagas kembali mengangkat pistol, tetapi petugas keamanan langsung menerjang dari samping dan menjatuhkan senjatanya. Ia tersungkur di lantai marmer, sementara para pelayat mundur dengan wajah ketakutan.
“Jangan sentuh anak itu!” teriak Anindya. Meski tubuhnya lemah, suaranya membuat semua orang berhenti. Dimas berlari mendekat, lalu memeluk tangannya sambil menangis lega.
Maya bertanya bagaimana Dimas mengetahui Anindya masih hidup. Bocah itu mengeluarkan jam tangan kecil milik Anindya yang ditemukannya pagi tadi di belakang paviliun keluarga.
Dimas menjelaskan jam itu memiliki fitur rekaman suara. Sebelum ditangkap, Anindya sempat menekan tombol darurat dan meninggalkan pesan pendek: “Dimas, jangan biarkan mereka menguburku.”
Anindya menangis mendengarnya. Ia tidak tahu apakah pesan itu berhasil terkirim. Dimas ternyata menemukan jam tersebut setelah mendengar bunyi alarm kecil dari semak dekat gudang belakang.
Polisi tiba setelah Maya menghubungi mereka. Dua orang suruhan Bagas ditangkap di gerbang kompleks, dan salah satunya langsung mengaku membantu memindahkan Anindya setelah menerima bayaran besar.
Bagas masih menyangkal sampai polisi menunjukkan rekaman keamanan gudang. Wajahnya akhirnya jatuh. Semua kebohongan, ancaman, dan rencana perebutan warisan runtuh dalam hitungan menit di depan keluarganya sendiri.
Saat diborgol, Bagas menatap Anindya penuh kebencian. Anindya menjawab tenang, “Kau hampir menguburku hidup-hidup. Sekarang kau akan hidup cukup lama untuk mempertanggungjawabkan semuanya.”
Beberapa minggu kemudian, Anindya kembali ke rumah keluarga dalam keadaan pulih. Ia mengambil alih perusahaan, memecat orang-orang Bagas, dan memastikan Maya serta Dimas hidup aman di sisinya.
Di paviliun yang dahulu menjadi tempat penguburannya, Anindya memeluk Dimas erat. “Kau menyelamatkan hidupku.” Dimas tersenyum sambil menangis. “Aku hanya percaya Kakak masih menungguku.”
Comments (0)
Loading comments...
















