Logo

09idm-Suaminya Memberinya 15 Dolar Saat Hendak Melahirkan… Tapi Dia Tak Tahu Siapa Ayah Istrinya

Article image

Di balik pintu penthouse, Alya menahan kontraksi sambil menggenggam tasnya. Dua pengawal segera menghampiri. “Nona Alya, mobil sudah siap. Tuan besar menunggu di rumah sakit.”

Arga berdiri membeku ketika suara mesin limusin terdengar menjauh. Ia menatap cincin di atas lima belas dolar itu, lalu akhirnya memahami bahwa Alya benar-benar meninggalkannya.

Beberapa detik kemudian, ponselnya berdering. Mitra bisnis terbesarnya berkata dingin, “Jamuan malam ini dibatalkan. Keluarga Wijaya menarik seluruh investasi dari perusahaanmu mulai sekarang.”

Wajah Arga langsung pucat. Keluarga Wijaya adalah pemegang saham terbesar yang selama ini menyelamatkan perusahaannya, tetapi ia tak pernah mengetahui hubungan mereka dengan Alya.

Di dalam limusin, Alya menggenggam tangan pengawal sambil menahan sakit. “Tolong bawa aku ke rumah sakit. Setelah anakku lahir, aku tidak akan kembali ke sana.”

Sesampainya di rumah sakit swasta terbaik Jakarta, seorang pria berambut perak berlari menghampirinya. Ayah Alya memeluk putrinya sambil berbisik, “Ayah sudah terlambat melindungimu.”

Alya menggeleng sambil menahan air mata. “Ayah tidak terlambat. Malam ini aku akhirnya sadar bahwa kekayaan tidak berarti apa-apa tanpa seseorang yang menghargai kita.”

Sementara itu, Arga buru-buru menelepon Alya berkali-kali, tetapi semua panggilannya ditolak. Ia mengambil cincin itu dan akhirnya berlari meninggalkan penthouse menuju rumah sakit.

Ketika Arga tiba, dua pengawal menghentikannya di koridor. “Saya suaminya!” bentaknya. Salah satu pengawal menjawab datar, “Untuk malam ini, Anda bukan orang yang dia inginkan.”

Dari balik pintu ruang bersalin terdengar tangisan bayi. Arga terdiam. Beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar sambil tersenyum. “Ibu dan bayinya sehat. Bayi laki-laki.”

Arga hampir menangis lega. “Boleh saya melihat mereka?” Perawat menatapnya sejenak sebelum menjawab, “Hanya jika Ibu Alya memberikan izin. Keputusan sepenuhnya berada di tangannya.”

Di dalam kamar, Alya memeluk putranya dengan mata berkaca-kaca. Ayahnya berdiri di samping ranjang. “Apa pun keputusanmu, Ayah akan mendukungmu dan cucu Ayah.”

Alya mencium kening bayinya. “Aku tidak ingin anakku tumbuh melihat ibunya direndahkan. Aku ingin dia belajar bahwa cinta tanpa rasa hormat bukanlah cinta.”

Akhirnya Alya mengizinkan Arga masuk. Ia datang dengan wajah hancur, menggenggam cincin pernikahan itu. “Alya, aku salah. Tolong beri aku satu kesempatan lagi.”

Alya menatapnya tanpa kemarahan. “Kesempatan itu sudah kuberikan setiap hari selama pernikahan kita. Lima belas dolar tadi hanya menunjukkan betapa kecilnya nilai diriku di matamu.”

Arga berlutut di samping ranjang. “Aku akan berubah.” Alya menjawab tenang, “Berubahlah untuk dirimu sendiri. Jangan menjadikan aku alasan untuk menunda perubahan sampai semuanya terlambat.”

Keesokan paginya, pengacara keluarga datang membawa dokumen perceraian. Alya menandatanganinya tanpa ragu, sementara Arga hanya mampu menatap tanda tangannya yang mengakhiri kehidupan mereka bersama.

Ayah Alya kemudian menyerahkan surat lain kepada Arga. Investasi keluarga tidak dihancurkan, tetapi kendali perusahaan dicabut darinya sampai audit membuktikan ia mampu bertanggung jawab secara profesional.

“Aku tidak mengambil semuanya darimu,” kata Alya. “Aku hanya berhenti membiarkan hidupku menjadi sesuatu yang bisa kau remehkan ketika sedang terburu-buru menghadiri jamuan bisnis.”

Beberapa bulan kemudian, Alya menggendong putranya di balkon rumah ayahnya. Cincin lama telah disimpan. Ia tersenyum dan berbisik, “Nak, malam itu Ibu kehilangan suami, tetapi menemukan kembali harga diri.”

Comments (0)

Loading comments...

N10INDO Gerobak Kopinya Dihancurkan Polisi, Namun Putra Pak Hasan Bukan Orang Biasa
Pak Hasan menutup telepon tanpa menjelaskan apa pun. Ia kembali berjongkok, memunguti sachet kopi yang berserakan, sementara tiga polisi itu menghilang di ujung jalan. Belum lima menit berlalu, suara beberapa kendaraan berhenti serempak di depan warung. Para pedagang sekitar terdiam ketika sejumlah petugas berpakaian rapi turun dengan wajah serius. Ardi, Bima, dan Dimas yang masih tertawa di seberang jalan langsung berhenti. Seorang perwira senior memanggil tegas, “Kalian bertiga, kembali ke sini sekarang.” Wajah Ardi berubah tegang. Ia mencoba tersenyum santai sambil berkata, “Komandan, hanya ada sedikit salah paham.” Namun perwira itu bahkan tidak membalas senyumnya. Dari kendaraan terakhir, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun turun cepat. Begitu melihat gerobak terbalik, wajahnya menegang dan langkahnya langsung menuju Pak Hasan. Pria itu berhenti di hadapan lelaki tua tersebut, lalu berkata dengan suara berat, “Ayah, mereka melakukan ini?” Seluruh jalan mendadak sunyi mendengar satu kata itu. Ardi membeku. Bima perlahan menurunkan tongkatnya, sementara Dimas kehilangan senyum. Mereka akhirnya menyadari lelaki miskin yang dihina tadi ternyata ayah seseorang berpengaruh. Pak Hasan tidak langsung menjawab. Ia menunjuk gelas hancur dan gerobak yang terbalik. “Mereka bukan menghina saya saja. Mereka menghina seragam yang mereka kenakan.” Putranya menatap ketiga polisi itu dengan tajam, tetapi tetap tenang. “Saya tidak datang untuk membalas dendam. Saya datang memastikan semuanya diperiksa secara resmi.” Seorang petugas membuka rekaman kamera toko di dekat lokasi. Dalam video terlihat jelas Ardi menyapu gelas, Bima memukul gerobak, dan ketiganya menjatuhkannya bersama-sama. Bima mulai panik. “Pak, kami hanya bercanda.” Pak Hasan menatapnya datar dan menjawab, “Bercanda tidak membuat orang kehilangan penghasilan untuk memberi makan keluarganya.” Dimas mencoba menyela, tetapi perwira senior langsung menghentikannya. “Tidak ada alasan. Semua tindakan kalian sudah terekam, termasuk ucapan kalian kepada warga sipil.” Ardi akhirnya menunduk. Kesombongan yang tadi memenuhi wajahnya hilang sepenuhnya. Para pedagang yang selama ini takut mulai berani berdiri mendekati gerobak Pak Hasan. Putra Pak Hasan kemudian memerintahkan proses pemeriksaan disiplin dilakukan tanpa perlakuan khusus. Ketiga polisi itu diminta menyerahkan tongkat, identitas dinas, dan mengikuti pemeriksaan resmi. Pak Hasan justru menghentikan warga yang ingin mencaci mereka. “Jangan lakukan kepada mereka apa yang mereka lakukan kepada saya. Keadilan tidak membutuhkan penghinaan.” Ucapan itu membuat suasana semakin hening. Ardi menatap lelaki tua tersebut dengan rasa malu yang nyata, lalu perlahan berkata, “Pak Hasan… saya benar-benar keterlaluan.” Pak Hasan menjawab tenang, “Permintaan maaf baru berarti kalau setelah hari ini kalian memperlakukan pedagang kecil sebagai manusia, bukan sebagai orang yang bisa kalian injak.” Beberapa hari kemudian, gerobak kopi Pak Hasan diperbaiki sepenuhnya. Para pedagang sekitar membantu mengecatnya, sementara warga yang mengetahui kisahnya datang membeli kopi sejak pagi. Ketiga polisi itu menjalani proses disiplin dan diwajibkan mengganti seluruh kerugian. Pak Hasan menerima uang tersebut, tetapi menolak satu rupiah pun melebihi kerusakan sebenarnya. Saat membuka gerobaknya kembali, Pak Hasan tersenyum kepada pelanggan pertama. “Kekuasaan bisa membuat orang ditakuti, tapi hanya sikap benar yang membuat seseorang dihormati.”