Logo

092tid-Dia Menghina Istri Tukang Bangunan Ini… Tapi Tak Menyangka Suaminya Akan Berdiri

Article image

Arga tetap berdiri sangat dekat di depan Rian, tetapi tangannya tidak pernah terangkat. Tatapan dinginnya justru membuat Rian kehilangan keberanian sedikit demi sedikit. Para pekerja di sekitar mereka menahan napas. Ayu masih berdiri di belakang suaminya dengan noda semen basah di celana dan tas makan siang yang belum sempat ia letakkan. Rian mencoba tertawa, tetapi suaranya terdengar dipaksakan. “Kenapa? Mau sok jadi jagoan sekarang?” sindirnya. Arga hanya menjawab tenang, “Gue nggak perlu mukul lo buat membela istri gue.” Ia kemudian menunjuk noda di pakaian Ayu. “Minta maaf sama dia.” Rian menggeleng keras. “Gue nggak akan minta maaf sama siapa pun!” Saat itulah suara seseorang terdengar dari belakang kerumunan, “Kalau begitu, mungkin kamu harus menjelaskan semuanya kepada saya.”

Semua pekerja langsung menoleh. Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berjalan masuk bersama manajer proyek dan dua staf kantor. Kemeja putihnya sederhana, tetapi semua mandor spontan berdiri tegak ketika melihatnya. Rian yang tadinya arogan langsung pucat. “Pak Hendra… Bapak kok ada di sini?” katanya gugup. Pria itu tidak menjawab. Ia melihat makanan yang tercecer, bekas semen pada pakaian Arga dan Ayu, lalu menatap Rian. “Saya datang memeriksa proyek saya sendiri. Rupanya saya datang pada waktu yang tepat.” Rian buru-buru berkata, “Pak, ini cuma bercanda antarpekerja!” Arga belum sempat bicara ketika salah satu pekerja lain maju. “Bukan bercanda, Pak. Rian sengaja melempar semen dan menghina istri Arga di depan kami semua.” Pekerja kedua ikut menambahkan, “Kami melihat semuanya.” Senyum Rian hilang seketika.

Pak Hendra kemudian mendekati Ayu dan berkata dengan sopan, “Ibu, saya minta maaf karena kejadian seperti ini terjadi di proyek saya.” Ayu menggeleng pelan. “Bapak tidak perlu minta maaf atas perbuatan orang lain.” Jawaban itu membuat Pak Hendra terdiam sejenak sebelum menoleh kepada Arga. “Dan kamu masih bisa menahan diri setelah istrimu diperlakukan seperti itu?” Arga menjawab, “Saya datang ke sini buat kerja, Pak, bukan cari ribut.” Rian tiba-tiba menyela, “Dia pura-pura baik! Dia memang selalu merasa paling hebat!” Pak Hendra langsung menatapnya tajam. “Yang saya lihat justru sebaliknya. Orang kuat bukan orang yang paling cepat mengangkat tangan. Orang kuat adalah orang yang tetap bisa mengendalikan dirinya ketika punya alasan untuk marah.” Para pekerja mulai berbisik, sementara Rian semakin gelisah.

Namun kejutan terbesar datang ketika manajer proyek menyerahkan sebuah map kepada Pak Hendra. “Pak, sekalian ini dokumen yang Bapak minta.” Pak Hendra membukanya lalu tersenyum tipis kepada Arga. “Saya sebenarnya datang hari ini untuk membicarakan ini dengan kamu.” Arga terlihat bingung. “Dengan saya?” Pak Hendra mengangguk. “Selama enam bulan terakhir, mandor memberikan laporan tentang hasil kerja, disiplin, dan kemampuanmu mengatur tim. Mulai bulan depan, saya ingin kamu menjadi kepala pengawas lapangan untuk proyek ini.” Seluruh pekerja langsung terdiam. Rian menatap Arga seolah tidak percaya. “Dia? Kepala pengawas?” serunya. Pak Hendra menjawab tegas, “Ya. Karena jabatan diberikan kepada orang yang bisa dipercaya, bukan kepada orang yang paling keras menghina temannya.” Arga sendiri terlihat terkejut. “Pak, saya cuma menjalankan pekerjaan saya.” Pak Hendra tersenyum. “Justru itu alasan saya memilihmu.”

Rian mulai panik. Ia buru-buru mendekati Pak Hendra. “Pak, jangan karena masalah kecil ini Bapak menghancurkan pekerjaan saya. Saya punya keluarga.” Ayu menatapnya tajam tetapi tidak berkata apa-apa. Arga akhirnya berbicara, “Tadi waktu lo hina gue miskin, lo nggak pernah mikir gue juga punya keluarga.” Rian menunduk. Beberapa detik kemudian ia berbalik kepada Ayu dan berkata dengan suara berat, “Ayu… saya minta maaf. Saya keterlaluan.” Ayu menjawab tenang, “Yang kamu hina bukan cuma saya. Kamu sengaja merendahkan suami saya karena pekerjaan dan keadaan hidupnya.” Rian menggigit bibirnya. “Saya salah.” Pak Hendra kemudian berkata, “Permintaan maaf tidak menghapus akibat. Tapi setidaknya itu awal untuk bertanggung jawab.” Ia memerintahkan manajer mencatat kejadian tersebut dan menskors Rian sementara sambil melakukan evaluasi resmi.

Ketika orang-orang mulai kembali bekerja, Ayu mendekati Arga dan membersihkan sisa semen di bahu suaminya menggunakan tisu dari tasnya. Matanya berkaca-kaca. “Aku takut tadi kamu benar-benar berkelahi,” katanya lirih. Arga tersenyum kecil. “Aku juga marah. Tapi kalau aku mukul dia, yang pulang membawa masalah malah kita.” Ayu menatapnya lama, lalu berkata, “Aku nggak pernah malu punya suami tukang bangunan. Aku justru bangga karena kamu cari nafkah dengan jujur.” Arga terdiam, jelas tersentuh. Dari kejauhan Pak Hendra mendengar ucapan itu dan tersenyum. Ia kemudian berkata, “Arga, jangan pernah merasa pekerjaanmu membuatmu lebih rendah dari siapa pun.” Arga menjawab, “Saya nggak pernah malu, Pak. Saya cuma pengin keluarga saya hidup dari hasil yang halal.” Pak Hendra mengangguk mantap. “Karena itu kamu pantas naik lebih tinggi.”

Beberapa bulan kemudian, gedung mewah itu akhirnya selesai berdiri. Arga kini mengenakan seragam pengawas proyek dan helm putih, memimpin puluhan pekerja yang dahulu bekerja bersamanya. Pada hari peresmian, Ayu datang membawa kotak makan seperti dulu, membuat Arga tertawa saat melihatnya. “Masih bawain makan siang?” godanya. Ayu tersenyum, “Biar kepala pengawas nggak lupa rasanya jadi suami orang.” Di sudut lokasi, Rian datang setelah masa skorsingnya selesai. Kali ini ia tidak lagi memasang wajah sombong. Ia menghampiri Arga dan berkata, “Gue dulu pikir harga seorang laki-laki ditentukan duit dan jabatan. Ternyata gue salah.” Arga mengulurkan tangan. “Kalau lo benar-benar berubah, kita mulai lagi dari nol.” Rian menjabatnya erat. Ayu tersenyum melihat mereka. Arga kemudian menatap gedung yang menjulang dan berkata, “Orang boleh meremehkan pekerjaan kita. Tapi jangan pernah biarkan hinaan mereka menentukan nilai diri kita.” Dan untuk pertama kalinya, semua orang di sana memahami bahwa kemenangan terbesar Arga bukanlah jabatan barunya, melainkan caranya melindungi orang yang ia cintai tanpa kehilangan harga dirinya.

Comments (0)

Loading comments...

N06INDO  Dimas Menghantam Peti Mati Dua Kali… Lalu Terdengar Suara dari Dalam
  Dimas menatap mata Anindya dari celah peti, lalu berteriak agar semua orang melihat. Bagas mengangkat pistol, tetapi tangannya gemetar hebat ketika para pelayat mulai mendekat. Maya segera berdiri di depan Dimas. “Turunkan senjatamu, Bagas!” katanya tegas. Untuk pertama kalinya, pria berkuasa itu terlihat kehilangan kendali di hadapan seluruh keluarganya. Dua petugas keamanan saling berpandangan, ragu mengikuti Bagas. Seorang paman tua maju dan berkata, “Buka petinya sekarang. Kalau Anindya hidup, kita semua berhak mengetahui kebenarannya.” Bagas mencoba menghentikan mereka, tetapi Maya merebut kesempatan. Ia memerintahkan staf membuka pengunci peti, sementara Dimas menangis sambil terus memanggil nama Anindya dengan putus asa. Ketika tutup peti akhirnya terangkat, ruangan dipenuhi jeritan. Anindya terbaring hidup, mulut tertutup lakban, tangannya terikat longgar di bawah kain krem yang menutupi tubuhnya. Maya segera melepaskan lakban itu. Anindya menarik napas panjang, lalu berbisik serak, “Jangan biarkan Bagas pergi.” Semua mata langsung beralih kepada pria yang mulai mundur perlahan. Bagas menggeleng keras. “Dia bingung! Jangan percaya!” Namun Anindya menatapnya tanpa berkedip. “Aku mendengar suaramu malam itu. Kau sendiri yang memerintahkan mereka memasukkanku ke sini.” Ruangan mendadak sunyi. Bagas mencoba menyangkal, tetapi seorang pegawai keluarga tiba-tiba maju membawa ponsel. Ia mengaku diam-diam merekam percakapan Bagas dengan dua orang suruhannya semalam. Rekaman diputar di depan semua orang. Suara Bagas terdengar jelas membicarakan dokumen warisan dan rencana membuat kematian Anindya terlihat alami sebelum surat wasiat keluarga diumumkan. Maya menutup mulutnya, terpukul. Ternyata Anindya adalah pewaris utama perusahaan keluarga, sedangkan Bagas akan kehilangan kendali bisnis begitu perempuan muda itu resmi menerima warisan ayahnya. Bagas kembali mengangkat pistol, tetapi petugas keamanan langsung menerjang dari samping dan menjatuhkan senjatanya. Ia tersungkur di lantai marmer, sementara para pelayat mundur dengan wajah ketakutan. “Jangan sentuh anak itu!” teriak Anindya. Meski tubuhnya lemah, suaranya membuat semua orang berhenti. Dimas berlari mendekat, lalu memeluk tangannya sambil menangis lega. Maya bertanya bagaimana Dimas mengetahui Anindya masih hidup. Bocah itu mengeluarkan jam tangan kecil milik Anindya yang ditemukannya pagi tadi di belakang paviliun keluarga. Dimas menjelaskan jam itu memiliki fitur rekaman suara. Sebelum ditangkap, Anindya sempat menekan tombol darurat dan meninggalkan pesan pendek: “Dimas, jangan biarkan mereka menguburku.” Anindya menangis mendengarnya. Ia tidak tahu apakah pesan itu berhasil terkirim. Dimas ternyata menemukan jam tersebut setelah mendengar bunyi alarm kecil dari semak dekat gudang belakang. Polisi tiba setelah Maya menghubungi mereka. Dua orang suruhan Bagas ditangkap di gerbang kompleks, dan salah satunya langsung mengaku membantu memindahkan Anindya setelah menerima bayaran besar. Bagas masih menyangkal sampai polisi menunjukkan rekaman keamanan gudang. Wajahnya akhirnya jatuh. Semua kebohongan, ancaman, dan rencana perebutan warisan runtuh dalam hitungan menit di depan keluarganya sendiri. Saat diborgol, Bagas menatap Anindya penuh kebencian. Anindya menjawab tenang, “Kau hampir menguburku hidup-hidup. Sekarang kau akan hidup cukup lama untuk mempertanggungjawabkan semuanya.” Beberapa minggu kemudian, Anindya kembali ke rumah keluarga dalam keadaan pulih. Ia mengambil alih perusahaan, memecat orang-orang Bagas, dan memastikan Maya serta Dimas hidup aman di sisinya. Di paviliun yang dahulu menjadi tempat penguburannya, Anindya memeluk Dimas erat. “Kau menyelamatkan hidupku.” Dimas tersenyum sambil menangis. “Aku hanya percaya Kakak masih menungguku.”