089tid-Dia Dihina Karena Terlihat Biasa… Tapi Satu Kalimatnya Membuat Dion Membeku

Dion masih berdiri membeku ketika Raka menarik tangannya dari kap mobil hitam itu. Vanessa menatap Dion, lalu menatap Raka dengan wajah semakin pucat. “Dion… kenapa lo diam?” bisiknya. Dion memaksa tersenyum. “Dia cuma gertak. Mobil ini jelas punya gue.” Raka tidak membantah. Ia hanya memasukkan tangan ke saku dan berkata tenang, “Kalau begitu, tunggu sebentar.” Beberapa detik kemudian seorang pria paruh baya berpakaian formal keluar dari gedung kampus dan berjalan cepat menuju mereka. Begitu melihat Raka, pria itu langsung menunduk hormat. “Pak Raka, maaf membuat Anda menunggu. Mobil Anda sudah kami siapkan sejak pagi.” Senyum Dion seketika lenyap. Vanessa refleks mundur satu langkah. “Mobil… Anda?” tanyanya lirih. Raka menatap Dion tanpa emosi. “Tadi katanya gue jangan sentuh mobil lo?”
Dion menelan ludah, tapi gengsinya belum benar-benar runtuh. Ia menunjuk pria itu dengan kasar. “Lo salah orang! Gue yang sering bawa mobil ini ke kampus!” Pria paruh baya itu mengernyit. “Anda memang pernah meminjamnya dua kali melalui teman Anda, tetapi kendaraan ini terdaftar sebagai aset pribadi Pak Raka.” Vanessa langsung menoleh tajam kepada Dion. “Jadi selama ini lo bohong ke gue?” Dion mulai panik. “Vanessa, dengerin dulu. Gue cuma—” Vanessa memotongnya, “Lo bilang mobil ini hadiah ulang tahun dari bokap lo!” Raka menghela napas pendek. “Masalahnya bukan dia pernah pinjam mobil gue. Masalahnya dia memakai sesuatu yang bukan miliknya untuk merendahkan orang lain.” Dion menggertakkan gigi. “Jangan sok suci!” Raka menjawab dingin, “Gue nggak perlu sok kaya buat dihargai.”
Kerumunan mahasiswa mulai memperhatikan dari kejauhan. Dion terlihat semakin terdesak. “Oke, gue salah soal mobil. Terus mau apa? Gue bayar sewa!” katanya dengan nada tinggi. Raka menatapnya lekat-lekat. “Lo masih belum ngerti.” Vanessa kini menjaga jarak dari Dion. “Dia benar. Tadi lo dorong dia hanya karena lo pikir dia miskin.” Dion membentak, “Lo sekarang bela dia?” Vanessa menjawab, “Gue bela kenyataan.” Raka kemudian berkata, “Kalau tadi gue benar-benar cuma mahasiswa biasa dengan tas murah, apa lo bakal minta maaf?” Dion terdiam. Raka melanjutkan, “Nah, itu jawabannya.” Salah satu mahasiswa yang berdiri tak jauh berkata, “Bro, dari dulu Dion memang suka pamer mobil itu.” Wajah Dion memerah. “Diam! Ini bukan urusan kalian!” Raka tersenyum tipis. “Sekarang justru semua orang bisa lihat masalah sebenarnya.”
Vanessa menatap Dion dengan campuran malu dan kecewa. “Gue ikut ketawa karena gue percaya semua omongan lo,” katanya. Dion mendekat kepadanya. “Sayang, jangan lebay. Gue cuma pengin kelihatan bagus di depan lo.” Vanessa menggeleng. “Bagus? Dengan merendahkan orang lain?” Dion mulai kehilangan kendali. “Semua orang di kampus juga begitu!” Raka langsung menjawab, “Salah tetap salah walaupun ramai-ramai.” Dion menatap Raka penuh kebencian. “Karena lo punya mobil mahal, sekarang lo merasa lebih tinggi dari gue?” Raka menggeleng. “Justru karena gue punya mobil ini, gue tahu harga benda nggak pernah sama dengan harga diri.” Vanessa terdiam beberapa saat, lalu berkata pelan, “Raka… gue minta maaf karena tadi ikut ketawa.” Raka menjawab, “Minta maaflah karena sikap lo, bukan karena sekarang lo tahu mobil ini punya gue.”
Dion akhirnya menunduk, tetapi kemudian mencoba satu kali lagi menyelamatkan harga dirinya. “Fine. Gue minta maaf. Puas?” Raka menatapnya tanpa senyum. “Belum.” Dion langsung menegang. “Mau apa lagi?” Raka menunjuk backpack di bahunya sendiri. “Tadi lo lihat baju gue, tas gue, lalu langsung mutusin gue pantas dihina. Jadi bilang dengan jujur kenapa.” Dion tidak menjawab. Vanessa mendesaknya, “Jawab, Dion.” Akhirnya Dion berkata lirih, “Karena gue pikir… dia bukan siapa-siapa.” Raka mengangguk. “Nah. Mulai hari ini belajar satu hal: orang yang kelihatannya bukan siapa-siapa tetap manusia.” Dion menarik napas berat. “Gue salah.” Raka menjawab, “Sekarang kedengarannya lebih jujur.” Beberapa mahasiswa yang menyaksikan mulai mengangguk. Untuk pertama kalinya, Dion tidak punya kalimat angkuh untuk membalas.
Raka kemudian menyerahkan kunci mobil kepada pria paruh baya tadi. “Pak, tolong bawa mobil ini kembali ke rumah.” Dion terkejut. “Lo nggak mau pakai?” Raka tersenyum tipis. “Gue datang ke kampus buat kuliah, bukan buat pamer.” Vanessa menatap Raka seolah baru benar-benar memahami siapa dirinya. “Jadi lo sengaja berpakaian biasa?” tanyanya. Raka menjawab, “Nggak. Gue memang begini setiap hari.” Dion terlihat semakin malu. Raka lalu berkata, “Yang mahal itu mobilnya. Bukan pemiliknya.” Vanessa tersenyum kecil, lalu memandang Dion. “Gue kira lo percaya diri. Ternyata lo cuma butuh barang orang lain supaya merasa besar.” Dion mengepalkan tangan, namun akhirnya melepaskannya lagi. “Vanessa, jangan pergi.” Vanessa menggeleng. “Gue bukan pergi karena lo nggak punya mobil ini. Gue pergi karena ternyata gue nggak kenal siapa diri lo sebenarnya.”
Ketika Vanessa berjalan meninggalkannya, Dion berdiri sendirian di samping tempat parkir yang kini kosong. Ia memandang Raka dan bertanya lirih, “Kenapa lo nggak balas mempermalukan gue lebih parah?” Raka berhenti beberapa langkah darinya. “Karena kalau gue melakukan itu, berarti gue sama aja seperti lo.” Dion terdiam lama. “Masih ada kesempatan buat gue benerin semuanya?” tanyanya. Raka menatapnya serius. “Kesempatan selalu ada, tapi jangan mulai dari gue. Mulai dari orang-orang yang pernah lo rendahkan.” Dion mengangguk perlahan. “Gue akan coba.” Raka pun berbalik menuju gedung kampus. Dari belakang Dion memanggil, “Raka!” Raka menoleh. Dion berkata, “Sekarang gue ngerti… yang bikin gue kelihatan miskin bukan karena gue nggak punya mobil itu.” Raka tersenyum tipis. “Bagus. Berarti akhirnya lo belajar sesuatu yang nilainya lebih mahal dari mobil mana pun.”
Comments (0)
Loading comments...


















