Logo

088tid-Pria Sombong Itu Mengejek Bajunya, Tanpa Tahu Siapa Pemilik Ferrari Sebenarnya

Article image

Suasana pesta mendadak membeku. Pria berbaju mustard menatap Ferrari yang baru saja terbuka, sementara wajah para tamu berubah dari geli menjadi penasaran.

Wanita glamor di sampingnya mundur perlahan. “Jangan bilang... mobil itu benar-benar milik dia?” bisiknya, kini tak mampu lagi tertawa.

Pria berpakaian hitam membuka pintu pengemudi dengan tenang. Ia tidak membanggakan diri, hanya menatap lelaki yang tadi menghinanya tanpa sedikit pun emosi.

Pria berbaju mustard memaksakan senyum. “Kamu cuma meminjam kuncinya, kan?” tanyanya gugup, berusaha mempertahankan harga dirinya di depan semua orang.

Pria berbaju hitam akhirnya menjawab, “Kalau masih ragu, tanyakan siapa nama pemilik yang tercatat.” Kalimat itu membuat suasana semakin mencekam.

Seorang manajer pesta segera datang tergesa-gesa. Begitu melihat pria berbaju hitam, sikapnya berubah hormat. “Pak Adrian, semuanya sudah siap sesuai permintaan Anda.”

Seketika bisikan memenuhi tepi kolam. Semua mata beralih kepada lelaki berbaju mustard yang tadi dengan sombong mengaku hanya orang selevel dirinya pantas memiliki Ferrari.

Wajahnya pucat. “Pak Adrian?” ulangnya. Manajer mengangguk. “Beliau pemilik mobil ini... sekaligus pemilik vila tempat pesta malam ini berlangsung.”

Wanita glamor langsung melepaskan tangannya dari lengan lelaki berbaju mustard. Beberapa tamu yang tadi ikut tertawa kini menunduk malu dan menjauh darinya.

Adrian menatap mereka satu per satu. “Lucu sekali. Lima menit lalu kalian menilai seseorang hanya dari pakaian. Sekarang kalian bahkan takut menatap wajah saya.”

Lelaki berbaju mustard mulai panik. “Bro, tadi cuma bercanda. Jangan terlalu serius.” Ia tertawa kaku, tetapi tak seorang pun ikut tertawa.

Adrian menutup pintu Ferrari perlahan. “Menghina orang miskin bukan candaan. Memperlakukan orang seperti pelayan hanya karena penampilannya juga bukan candaan.”

Manajer kemudian mendekati lelaki berbaju mustard. “Maaf, Pak. Undangan Anda dicabut. Sesuai perintah pemilik, Anda diminta meninggalkan properti ini sekarang.”

“Apa?!” bentaknya. Namun dua petugas keamanan sudah berdiri di belakangnya. Kesombongan yang sebelumnya memenuhi wajahnya lenyap seketika.

Wanita glamor mencoba mendekati Adrian. “Aku sebenarnya tahu kamu berbeda...” katanya manis. Adrian hanya tersenyum tipis. “Tadi tawamu mengatakan hal sebaliknya.”

Para tamu menahan napas. Wanita itu memerah karena malu, sementara beberapa orang yang sebelumnya mengejek Adrian mulai berpura-pura tidak pernah terlibat.

Adrian kemudian berkata tenang, “Saya tidak marah karena kalian mengira saya miskin. Saya kecewa karena kalian menganggap orang miskin pantas dipermalukan.”

Kalimat itu membuat pesta benar-benar sunyi. Lelaki berbaju mustard akhirnya menunduk, sadar bahwa seluruh penghinaan malam itu justru mempermalukan dirinya sendiri.

Sebelum masuk ke Ferrari, Adrian menatapnya sekali lagi. “Lain kali, hormati seseorang sebelum kamu tahu berapa harga mobilnya atau berapa isi rekeningnya.”

Ferrari merah itu kemudian melaju meninggalkan halaman vila, sementara lelaki berbaju mustard berdiri sendirian di bawah tatapan para tamu—kehilangan gengsi yang paling ia banggakan.

Comments (0)

Loading comments...

N06INDO  Dimas Menghantam Peti Mati Dua Kali… Lalu Terdengar Suara dari Dalam
  Dimas menatap mata Anindya dari celah peti, lalu berteriak agar semua orang melihat. Bagas mengangkat pistol, tetapi tangannya gemetar hebat ketika para pelayat mulai mendekat. Maya segera berdiri di depan Dimas. “Turunkan senjatamu, Bagas!” katanya tegas. Untuk pertama kalinya, pria berkuasa itu terlihat kehilangan kendali di hadapan seluruh keluarganya. Dua petugas keamanan saling berpandangan, ragu mengikuti Bagas. Seorang paman tua maju dan berkata, “Buka petinya sekarang. Kalau Anindya hidup, kita semua berhak mengetahui kebenarannya.” Bagas mencoba menghentikan mereka, tetapi Maya merebut kesempatan. Ia memerintahkan staf membuka pengunci peti, sementara Dimas menangis sambil terus memanggil nama Anindya dengan putus asa. Ketika tutup peti akhirnya terangkat, ruangan dipenuhi jeritan. Anindya terbaring hidup, mulut tertutup lakban, tangannya terikat longgar di bawah kain krem yang menutupi tubuhnya. Maya segera melepaskan lakban itu. Anindya menarik napas panjang, lalu berbisik serak, “Jangan biarkan Bagas pergi.” Semua mata langsung beralih kepada pria yang mulai mundur perlahan. Bagas menggeleng keras. “Dia bingung! Jangan percaya!” Namun Anindya menatapnya tanpa berkedip. “Aku mendengar suaramu malam itu. Kau sendiri yang memerintahkan mereka memasukkanku ke sini.” Ruangan mendadak sunyi. Bagas mencoba menyangkal, tetapi seorang pegawai keluarga tiba-tiba maju membawa ponsel. Ia mengaku diam-diam merekam percakapan Bagas dengan dua orang suruhannya semalam. Rekaman diputar di depan semua orang. Suara Bagas terdengar jelas membicarakan dokumen warisan dan rencana membuat kematian Anindya terlihat alami sebelum surat wasiat keluarga diumumkan. Maya menutup mulutnya, terpukul. Ternyata Anindya adalah pewaris utama perusahaan keluarga, sedangkan Bagas akan kehilangan kendali bisnis begitu perempuan muda itu resmi menerima warisan ayahnya. Bagas kembali mengangkat pistol, tetapi petugas keamanan langsung menerjang dari samping dan menjatuhkan senjatanya. Ia tersungkur di lantai marmer, sementara para pelayat mundur dengan wajah ketakutan. “Jangan sentuh anak itu!” teriak Anindya. Meski tubuhnya lemah, suaranya membuat semua orang berhenti. Dimas berlari mendekat, lalu memeluk tangannya sambil menangis lega. Maya bertanya bagaimana Dimas mengetahui Anindya masih hidup. Bocah itu mengeluarkan jam tangan kecil milik Anindya yang ditemukannya pagi tadi di belakang paviliun keluarga. Dimas menjelaskan jam itu memiliki fitur rekaman suara. Sebelum ditangkap, Anindya sempat menekan tombol darurat dan meninggalkan pesan pendek: “Dimas, jangan biarkan mereka menguburku.” Anindya menangis mendengarnya. Ia tidak tahu apakah pesan itu berhasil terkirim. Dimas ternyata menemukan jam tersebut setelah mendengar bunyi alarm kecil dari semak dekat gudang belakang. Polisi tiba setelah Maya menghubungi mereka. Dua orang suruhan Bagas ditangkap di gerbang kompleks, dan salah satunya langsung mengaku membantu memindahkan Anindya setelah menerima bayaran besar. Bagas masih menyangkal sampai polisi menunjukkan rekaman keamanan gudang. Wajahnya akhirnya jatuh. Semua kebohongan, ancaman, dan rencana perebutan warisan runtuh dalam hitungan menit di depan keluarganya sendiri. Saat diborgol, Bagas menatap Anindya penuh kebencian. Anindya menjawab tenang, “Kau hampir menguburku hidup-hidup. Sekarang kau akan hidup cukup lama untuk mempertanggungjawabkan semuanya.” Beberapa minggu kemudian, Anindya kembali ke rumah keluarga dalam keadaan pulih. Ia mengambil alih perusahaan, memecat orang-orang Bagas, dan memastikan Maya serta Dimas hidup aman di sisinya. Di paviliun yang dahulu menjadi tempat penguburannya, Anindya memeluk Dimas erat. “Kau menyelamatkan hidupku.” Dimas tersenyum sambil menangis. “Aku hanya percaya Kakak masih menungguku.”