Logo

075TID-Vanessa Pamer Supercar Mewah, Tapi Dia Tak Tahu Siapa Pemilik Sebenarnya

Article image

Alya terus berjalan meninggalkan halaman rumah mewah itu dengan langkah tenang, sementara tawa Vanessa dan kedua temannya masih terdengar dari belakang. Namun beberapa detik kemudian, suara mesin mobil lain memasuki gerbang utama. Sebuah sedan hitam berhenti di dekat mobil sport merah, dan seorang pria berjas turun dengan tergesa-gesa sambil membawa sebuah map kulit. Ia melihat Vanessa yang masih bersandar penuh gaya di samping mobil itu, lalu wajahnya langsung berubah bingung. “Nona Alya, tunggu!” teriaknya. Langkah Alya terhenti. Vanessa menurunkan kacamata hitamnya dan menatap pria itu tajam. “Kamu memanggil siapa?” tanyanya. Pria tersebut menunjuk Alya tanpa ragu. “Pemilik mobil ini. Saya membawa dokumen kendaraan dan kunci cadangannya.” Senyum Vanessa langsung membeku.

Kedua teman Vanessa berhenti tertawa. Vanessa mencoba mempertahankan ekspresi angkuhnya, meskipun wajahnya mulai pucat. “Jangan bercanda. Mobil ini milikku,” katanya sambil menepuk atap mobil merah itu seolah ingin membuktikan sesuatu. Pria berjas menatapnya heran. “Maaf, Nona. Mobil ini terdaftar atas nama Alya Pramesti.” Alya perlahan berjalan kembali mendekat. Ia tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun. Justru ketenangannya membuat Vanessa semakin gelisah. Vanessa menunjuk Alya dengan tangan gemetar. “Kamu sengaja menjebakku?” Alya menggeleng kecil. “Aku bahkan belum mengatakan apa-apa. Kamu sendiri yang mengaku sebagai pemiliknya.” Salah satu teman Vanessa berbisik, “Vanessa… kamu bilang mobil itu hadiah ulang tahun dari ayahmu.” Vanessa langsung membentaknya, “Diam!”

Ketegangan semakin berat ketika seorang penjaga mansion berjalan keluar dan menyerahkan kunci mobil kepada Alya. “Nona Alya, mobilnya sudah selesai dibersihkan. Seperti permintaan Anda, kami memarkirkannya di depan.” Alya menerima kunci itu dengan santai. Vanessa menatap kunci tersebut seolah baru saja melihat bukti paling memalukan dalam hidupnya. “Jadi… rumah ini juga ada hubungannya denganmu?” tanyanya pelan. Alya menatap mansion besar di belakang mereka. “Rumah ini milik pamanku. Aku datang untuk makan malam keluarga.” Vanessa kehilangan kata-kata. Salah satu temannya mundur perlahan, berusaha menjauh dari situasi tersebut. Alya kemudian bertanya dengan nada lembut, “Masih yakin aku tidak mampu membeli satu rodanya?” Vanessa menggigit bibir dan menundukkan kepala.

Namun penghinaan Vanessa ternyata belum selesai. Dari dalam rumah muncul seorang wanita elegan berusia sekitar enam puluh tahun, diikuti beberapa tamu berpakaian formal. Begitu melihat Alya, wanita itu tersenyum hangat. “Alya, semua orang menunggumu. Mengapa kamu masih di luar?” Vanessa langsung mengenali wanita tersebut dan tubuhnya menegang. Ia adalah Ratih Wijaya, seorang sosialita senior yang sangat dihormati dalam lingkaran elite Jakarta. Vanessa segera mendekatinya. “Bu Ratih, ada kesalahpahaman kecil.” Ratih menatap mobil merah, lalu menatap Vanessa. “Kesalahpahaman apa?” Alya menjawab lebih dulu. “Tidak penting, Tante. Vanessa hanya mengira mobilku miliknya.” Ratih mengangkat alis. “Mengira?” Salah satu teman Vanessa, yang ketakutan, spontan berkata, “Dia bukan cuma mengira, Bu. Dia mengejek Alya karena katanya Alya tidak akan pernah mampu memiliki mobil seperti itu.”

Vanessa langsung berbalik. “Kamu mengkhianatiku?” bentaknya kepada temannya. Ratih mengangkat tangan, membuat semua orang diam. “Vanessa, aku sudah mengenal keluargamu bertahun-tahun. Aku tidak pernah menyangka kamu memperlakukan orang berdasarkan pakaian atau penampilan.” Vanessa panik. “Bu Ratih, saya tidak tahu siapa dia.” Alya akhirnya menatap Vanessa dengan tatapan lebih serius. “Itu masalahnya. Kamu merasa perlu tahu siapa seseorang sebelum memutuskan apakah dia pantas dihormati.” Vanessa terdiam. Kalimat itu menghantam lebih keras daripada makian. Ratih kemudian berkata, “Besok malam keluargamu seharusnya menghadiri acara yayasan kami, bukan?” Vanessa mengangguk lemah. Ratih menjawab dingin, “Aku akan berbicara langsung dengan ibumu tentang kejadian hari ini.” Vanessa cepat-cepat berkata, “Tolong jangan, Bu. Saya bisa menjelaskan.”

Alya memandang Vanessa selama beberapa detik, lalu membuka pintu mobil merah. Namun sebelum masuk, ia berhenti. Vanessa tiba-tiba mendekatinya dengan suara jauh lebih pelan. “Alya… aku minta maaf.” Kedua temannya menatapnya dengan kaget karena baru pertama kali mendengar Vanessa meminta maaf dengan serius. Alya tidak langsung menjawab. Vanessa menarik napas. “Aku memang sering seperti itu. Semua orang di sekitarku selalu menilai siapa yang punya lebih banyak uang, koneksi, atau nama keluarga. Aku terbiasa melakukan hal yang sama.” Alya menatapnya tanpa senyum. “Dan hari ini kamu merasakan bagaimana rasanya ketika ukuran yang kamu gunakan sendiri berbalik melawanmu.” Vanessa menunduk. “Aku pantas mendapatkannya.” Alya berkata, “Yang penting bukan apakah kamu dipermalukan hari ini. Yang penting apakah besok kamu masih mempermalukan orang lain.”

Beberapa minggu kemudian, Vanessa kembali bertemu Alya di sebuah acara amal Jakarta. Kali ini ia datang tanpa rombongan teman, tanpa sikap berlebihan, dan justru membantu para staf mengatur meja sebelum acara dimulai. Alya yang baru tiba memperhatikannya dari kejauhan. Vanessa mendekat dengan sedikit gugup. “Aku tidak tahu apakah kamu akan percaya, tapi aku mencoba berubah.” Alya tersenyum kecil. “Aku tidak perlu percaya sekarang. Tunjukkan saja lewat cara kamu memperlakukan orang.” Vanessa mengangguk. Di luar gedung, mobil sport merah Alya terparkir di antara puluhan mobil mewah, tetapi untuk pertama kalinya Vanessa bahkan tidak memandangnya. Ia justru berbalik membantu seorang pelayan yang menjatuhkan beberapa kotak. Alya melihat itu dan berkata pelan, “Nah, itu jauh lebih berharga daripada satu roda mobil.” Vanessa tertawa kecil, kali ini tanpa kesombongan. “Dan jauh lebih mahal untuk dipelajari.” Alya tersenyum. “Tapi akhirnya kamu mampu membayarnya.”

Comments (0)

Loading comments...

04-Dia Menghina Raka di Toko Jam Mewah… Lalu Satu Telepon Membuat Senyumnya Hilang
Dion masih menatap Raka ketika pintu lift pribadi di ujung ruangan terbuka. Seorang pria paruh baya turun tergesa, lalu berhenti mendadak saat melihat Raka. Wajah pria itu langsung berubah pucat. Ia membungkuk hormat dan berkata, “Pak Raka, maaf membuat Anda menunggu. Saya datang secepat mungkin setelah menerima telepon.” Senyum Dion lenyap seketika. Nadira, Keisha, dan Tara saling berpandangan, sementara Raka tetap tenang. Ia hanya bertanya, “Dia siapa?” sambil menunjuk Dion. Pria paruh baya itu menelan ludah. “Dia pelanggan VIP kami, Pak. Tapi saya tidak tahu kalau dia berani memperlakukan Anda seperti ini malam ini.” Dion mencoba tertawa kecil, namun suaranya bergetar. “Tunggu… sebenarnya siapa lo?” Raka menatapnya tanpa emosi, membuat suasana ruangan terasa semakin berat. Raka tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke etalase jam yang tadi dihina Dion. “Jam itu masih tersedia?” tanyanya pelan kepada pria paruh baya tersebut. “Masih, Pak. Bahkan seluruh koleksi malam ini disiapkan khusus untuk Anda,” jawab pria itu. Tiga perempuan di belakang Dion langsung kehilangan warna wajah mereka. Dion mundur setengah langkah. “Khusus buat dia?” bisiknya. Manajer itu mengangguk. “Pak Raka adalah pemilik grup investasi yang baru mengakuisisi jaringan butik ini.” Nadira langsung menutup mulutnya. Keisha menunduk malu. Tara mematung. Mereka baru sadar pria yang mereka hina sebagai orang miskin justru pemilik tempat tersebut. Dion berusaha menyelamatkan harga dirinya. “Gue cuma bercanda, Rak. Jangan terlalu serius.” Raka tersenyum tipis. “Dua kali nabrak orang juga bercanda?” Pertanyaan itu membuat Dion bungkam. Raka melanjutkan, “Menghina pakaian seseorang mungkin menyenangkan buat lo. Tapi malam ini, lo belajar harga sebuah kesombongan.” Dion menatap manajer itu dengan panik. “Gue pelanggan lama di sini.” Namun pria itu menjawab tegas, “Mulai malam ini, status VIP Anda dibatalkan.” Nadira spontan menjauh dari Dion. “Kamu bilang semua orang di sini kenal kamu.” Dion menatapnya marah, tetapi tak satu pun dari mereka berani membelanya. Raka mengambil jam dari etalase setelah manajer membukanya. Ia memandang jam itu sebentar, lalu berkata, “Bungkus. Bukan untuk saya. Berikan kepada petugas kebersihan tertua.” Semua orang terdiam. Raka menambahkan, “Orang yang bekerja jujur lebih pantas menikmati sesuatu yang indah daripada orang yang merasa uang membuatnya lebih tinggi.” Dion menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya malam itu, kesombongannya benar-benar runtuh. “Raka… gue minta maaf,” katanya lirih, tak lagi berani menatap mata. Raka menjawab tenang, “Minta maaf bukan ke gue dulu. Minta maaf pada setiap orang yang pernah lo rendahkan hanya karena penampilan atau isi dompet mereka.” Dion tidak mampu membalas. Nadira, Keisha, dan Tara ikut menunduk. Tawa mereka sebelumnya kini terasa memalukan, menggantung berat di dalam salon mewah itu. Sebelum pergi, Raka berhenti di samping Dion. “Ingat malam ini. Orang paling berbahaya bukan yang terlihat kaya, tapi yang tetap tenang saat dipermalukan.” Raka berjalan menuju lift tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, Dion hanya berdiri kaku. Malam itu, bukan uang Raka yang menang, melainkan harga diri yang tak bisa dibeli.