074tid-Nara Menghancurkan Dinding Rumah Mewah, Lalu Rahasia Keluarga Ini Terbongkar

Arman berdiri membeku beberapa detik, seolah seluruh dunia runtuh di depan matanya. Lalu ia berlari masuk ke ruangan tersembunyi, berlutut di hadapan ibunya, dan dengan tangan gemetar melepaskan kain yang menutup mulut Ibu Sari. Nara ikut berlari, memeluk kaki neneknya sambil menangis tersedu-sedu. “Ibu… siapa yang melakukan ini?” suara Arman pecah. Ibu Sari menarik napas dalam, menatap putranya dengan mata penuh luka, lalu perlahan mengangkat tangannya menunjuk ke arah pintu. Tepat ke arah Laras yang masih berdiri pucat. “Dia, Arman,” bisik Ibu Sari. “Laras yang mengurung Ibu di sini.” Laras langsung menggeleng panik. “Itu bohong! Arman, jangan dengarkan dia!” Namun Arman tak lagi memandangnya seperti seorang suami. Tatapannya berubah dingin, tajam, dan penuh kengerian.
Arman segera melepaskan tali di tangan ibunya, lalu membantu Ibu Sari berdiri. Meski lemah, perempuan tua itu tetap menjaga martabatnya. Ia menggenggam tangan Nara erat-erat dan berkata, “Kalau bukan karena cucuku, mungkin kalian tidak akan pernah menemukan Ibu.” Nara mengusap air matanya. “Aku dengar Nenek memanggilku setiap malam.” Arman menoleh tajam kepada Laras. “Setiap malam?” Laras mundur satu langkah. Ibu Sari mengangguk. “Dia mengunci Ibu hampir dua minggu. Dia mengambil ponsel Ibu, memecat dua pelayan yang melihat sesuatu, lalu mengatakan kepada semua orang bahwa Ibu pergi ke Bandung untuk beristirahat.” Arman mengepalkan tangan. “Dua minggu kau membiarkan ibuku di balik dinding rumahku sendiri?” Laras menjawab dengan suara gemetar, “Aku terpaksa melakukan itu!” Kalimat itu justru membuat ruangan mendadak sunyi.
“Terpaksa?” Arman mengulang pelan. Laras mulai menangis dan mencoba mendekatinya. “Ibumu menemukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.” Ibu Sari tertawa pahit. “Katakan saja semuanya, Laras. Rahasianya sudah selesai malam ini.” Arman menatap ibunya. “Rahasia apa?” Ibu Sari menunjuk meja kecil di sudut ruangan tersembunyi. Di sana terdapat map cokelat yang selama ini berhasil ia sembunyikan di bawah kursi. Arman mengambilnya, membuka beberapa dokumen, lalu wajahnya seketika berubah. Surat pemindahan aset, tanda tangan palsu, rekening perusahaan keluarga, dan bukti transaksi bernilai miliaran rupiah memenuhi halaman-halaman itu. “Laras…” suara Arman bergetar menahan marah. “Kau mencuri dari keluarga ini?” Laras buru-buru berkata, “Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!” Ibu Sari langsung membalas, “Bukan. Kau mengambil semuanya karena kau pikir tak seorang pun akan berani menghentikanmu.”
Laras tiba-tiba berubah. Ketakutannya pecah menjadi kemarahan. “Sejak aku menikah denganmu, keluargamu tidak pernah menganggapku cukup baik!” teriaknya. “Ibumu selalu mengawasiku, menilai caraku bicara, caraku mengatur rumah, bahkan caraku membesarkan Nara!” Arman langsung menatapnya tajam. “Jangan bawa anakku ke dalam pembenaranmu.” Nara semakin erat memeluk Ibu Sari. Laras menunjuk perempuan tua itu. “Dia akan menyerahkan bukti itu kepadamu! Kalau dia bicara, aku kehilangan semuanya!” Ibu Sari menatapnya tanpa takut. “Karena itulah kau mengurung seorang perempuan berusia tujuh puluh tahun di balik tembok?” Laras terdiam. Arman perlahan berjalan mendekatinya. “Aku pernah membelamu di depan semua orang,” katanya dengan suara rendah. “Aku mempercayaimu dengan rumah ini, perusahaan ini, dan anakku. Tapi ternyata orang yang harus kulindungi dari awal justru keluargaku sendiri… darimu.”
Laras mencoba meraih tangan Arman, tetapi Arman mundur. “Jangan sentuh aku.” Suaranya begitu tenang hingga membuat Laras semakin ketakutan. Ia lalu mengambil ponselnya dan menelepon kepala keamanan keluarga. “Pak Bima, naik ke ruang kerja sekarang. Bawa tim keamanan dan panggil dokter keluarga.” Laras panik. “Arman, jangan lakukan ini! Kita bisa bicara berdua!” Arman menatapnya tanpa berkedip. “Kita sudah selesai bicara.” Beberapa saat kemudian, petugas keamanan tiba bersama staf rumah. Mereka semua terpaku melihat ruang rahasia dan Ibu Sari yang lemah. Arman menyerahkan map itu kepada Pak Bima. “Amankan semua dokumen ini. Tidak satu lembar pun boleh hilang.” Laras berteriak, “Kau mau mempermalukanku di depan semua orang?” Arman menjawab dingin, “Tidak. Kau sendiri yang memilih melakukan sesuatu yang membuatmu tak mampu lagi menatap mereka.”
Ketika dokter memeriksa Ibu Sari, Nara tetap duduk di samping neneknya. Arman kemudian berlutut di depan putrinya. Wajahnya dipenuhi penyesalan. “Ayah seharusnya percaya ketika kamu bilang mendengar suara Nenek.” Nara menggeleng sambil menangis. “Aku takut Ayah marah karena aku merusak dinding.” Arman langsung memeluknya. “Tidak ada dinding di dunia ini yang lebih berharga daripada keluargaku.” Ibu Sari tersenyum lemah. “Anak ini menyelamatkan kita semua malam ini.” Di belakang mereka, Laras mencoba berjalan menuju pintu, tetapi dua petugas keamanan menghalanginya. “Minggir!” bentaknya. Arman berdiri dan berkata, “Kau tidak akan pergi sebelum semuanya dicatat.” Laras menatapnya dengan putus asa. “Kau benar-benar memilih mereka daripada istrimu?” Arman menjawab tanpa ragu, “Aku memilih kebenaran daripada orang yang mengkhianati kami.”
Menjelang dini hari, polisi tiba setelah bukti-bukti diperiksa dan keterangan Ibu Sari dicatat. Laras berdiri di tengah ruang kerja yang dulu ia kuasai, kini dikelilingi orang-orang yang mengetahui seluruh rahasianya. Sebelum dibawa keluar, ia menoleh kepada Arman dengan mata merah. “Setelah semua yang kita jalani, apakah tidak ada sedikit pun kesempatan untukku?” Arman memandang Nara yang memegang tangan neneknya, lalu menjawab, “Kesempatan berakhir saat kau memilih mengurung ibuku dan membuat anakku hidup dalam ketakutan.” Ibu Sari mendekati Laras satu langkah. “Kekayaan bisa kembali. Nama baik bisa dibangun ulang. Tapi kepercayaan yang kau hancurkan malam ini tidak bisa kau beli.” Laras tak mampu menjawab. Ketika pintu utama terbuka dan ia dibawa pergi, Nara menatap ayahnya. “Sekarang Nenek aman, kan?” Arman memeluk putri dan ibunya sekaligus. “Mulai malam ini, tidak akan ada lagi rahasia di rumah ini.” Dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Ibu Sari tersenyum tanpa rasa takut.
Comments (0)
Loading comments...

















