072TID-Suara Ibu yang Kembali di Pesta Para Konglomerat

Keheningan di tebing Uluwatu terasa lebih mencekam daripada suara ombak yang menghantam karang. Arman menatap Vanessa dengan mata merah, sementara Nadia masih menutup mulutnya, menangis tanpa mampu mengucapkan apa pun. Raka memeluk pinggang Nadia seolah takut wanita itu akan menghilang lagi. “Jawab aku, Vanessa!” bentak Arman. “Kalau Nadia masih hidup, siapa yang kita makamkan?” Vanessa mundur perlahan, tetapi tumitnya terhenti di tepi kolam. Para tamu mulai berbisik. Seorang pria tua berbatik tiba-tiba maju dari kerumunan. Ia adalah Dr. Surya, dokter keluarga yang dulu menandatangani dokumen kematian Nadia. Wajahnya pucat. “Pak Arman… saya tidak pernah melihat wajah jenazah itu.” Arman menoleh tajam. “Apa maksud Anda?” Dokter itu menelan ludah. “Saya hanya menerima laporan medis yang sudah ditandatangani. Seseorang mengatakan tubuh Nadia rusak akibat kecelakaan dan peti tidak boleh dibuka.” Mata semua orang perlahan beralih kepada Vanessa. “Siapa yang memberimu laporan itu?” tanya Arman. Dr. Surya menunjuk dengan tangan gemetar. “Dia.”
Vanessa langsung menggeleng keras. “Dia bohong! Semua orang sedang mencoba menjebakku!” Namun sebelum ia sempat pergi, kepala keamanan keluarga datang membawa sebuah tablet. “Pak Arman, saya baru memeriksa arsip lama vila Anda.” Vanessa membeku. Pria itu memutar rekaman yang tersimpan dari enam tahun sebelumnya. Terlihat Vanessa memasuki rumah sakit malam-malam bersama seorang pengacara keluarga dan membawa sebuah amplop tebal. Arman menatap layar tanpa berkedip. “Enam tahun lalu… kau bahkan belum menjadi tunanganku.” Vanessa mulai menangis. “Aku mencintaimu sejak dulu!” Arman memukul meja marmer dengan telapak tangannya. “Itu bukan cinta!” Suaranya pecah. “Kau membuat anakku tumbuh tanpa ibunya!” Nadia tiba-tiba terhuyung dan memegang kepalanya. Raka menatapnya panik. “Ibu?” Nadia menatap Raka lama, lalu sebuah ingatan seperti menembus pikirannya. Dengan suara serak untuk pertama kalinya ia berbisik, “Raka…” Bocah itu terdiam sesaat, lalu menangis semakin keras. “Ibu ingat namaku!”
Arman langsung mendekati Nadia, tetapi ia berhenti beberapa langkah di depannya, takut menyentuh wanita yang selama bertahun-tahun ia yakini telah mati. “Nadia… apa yang terjadi padamu?” Nadia menarik napas gemetar. “Aku ingat mobilku jatuh di jalan menuju bandara. Setelah itu… aku terbangun di sebuah klinik kecil tanpa dokumen, tanpa ingatan.” Vanessa menutup matanya. Nadia melanjutkan, “Seorang perawat mengatakan seseorang membayar agar identitasku dihapus. Aku hanya tahu namaku Nadia karena tertulis pada kalung yang masih kupakai.” Ia mengeluarkan sebuah liontin kecil dari balik seragamnya. Arman tersentak. Di dalamnya ada foto pernikahan mereka. “Aku memberikan itu kepadamu saat Raka lahir,” katanya sambil menangis. Vanessa mendadak berteriak, “Cukup!” Semua orang berbalik. “Ya! Aku mengatur semuanya!” Vanessa akhirnya pecah. “Tapi kecelakaannya bukan rencanaku! Aku hanya memanfaatkan kesempatan!”
Raka langsung memeluk Nadia lebih erat. Arman berjalan mendekati Vanessa dengan tatapan yang membuat seluruh pesta membeku. “Kau memalsukan kematian istriku?” Vanessa menangis histeris. “Aku takut kehilanganmu! Ayahku terlilit utang. Keluargamu hendak memutus kerja sama dengan kami. Kalau Nadia tetap bersamamu, keluargaku akan hancur!” Arman berkata dingin, “Jadi kau menghancurkan keluargaku lebih dulu?” Vanessa terdiam. Kepala keamanan kemudian berkata, “Pak, masih ada satu hal.” Ia membuka dokumen digital lain. “Jenazah di dalam peti adalah seorang perempuan tak dikenal yang meninggal pada malam yang sama. Identitasnya sengaja dipalsukan.” Nadia menutup mulut dengan kedua tangan. “Orang tak bersalah itu… bahkan kehilangan namanya karena aku?” Vanessa buru-buru berkata, “Aku tidak membunuh siapa pun!” Arman menatapnya tajam. “Mungkin bukan tubuhnya yang kau bunuh. Tapi kau mencuri identitasnya, mencuri hidup Nadia, dan mencuri enam tahun masa kecil Raka.”
Sirene polisi mulai terdengar dari jalan masuk vila. Vanessa menatap gerbang, lalu Arman, wajahnya berubah putus asa. “Kau memanggil polisi?” Arman menjawab tanpa emosi, “Aku memanggil mereka sejak dokter mulai bicara.” Vanessa tiba-tiba berlutut. “Arman, aku mohon! Kita akan menikah bulan depan. Aku bisa memperbaiki semuanya!” Arman melepas cincin pertunangan dari jarinya dan meletakkannya di atas meja. “Ada enam tahun yang tidak bisa kau kembalikan.” Polisi memasuki teras dan mendekati Vanessa. Ia meronta sambil menangis, “Nadia! Tolong katakan sesuatu! Aku menyelamatkan hidupmu setelah kecelakaan itu!” Nadia menatapnya dengan air mata mengalir. “Tidak. Kau tidak menyelamatkanku.” Suaranya lembut tetapi tegas. “Kau memastikan aku tetap hidup jauh dari keluargaku supaya tak seorang pun menemukan kebohonganmu.” Vanessa kehilangan seluruh kekuatannya. Saat borgol dipasang, ia berbisik, “Aku hanya ingin menjadi bagian dari keluarga ini.” Raka menjawab dengan polos namun menusuk, “Keluarga tidak dibangun dengan membuat seorang ibu menghilang.”
Setelah Vanessa dibawa pergi, pesta mewah itu benar-benar sunyi. Arman mendekati Nadia dengan langkah perlahan. “Aku tidak akan meminta kau langsung kembali kepadaku,” katanya. “Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih pantas disebut suamimu setelah gagal menemukanmu.” Nadia memandangnya lama. “Kau percaya aku mati, Arman. Mereka membuat seluruh dunia mempercayainya.” Arman menunduk, air matanya jatuh. “Tapi ada satu orang yang tidak pernah berhenti mengenalimu.” Mereka melihat Raka. Bocah itu menggenggam tangan Nadia dan tangan Arman sekaligus. “Aku tahu suara Ibu,” katanya sambil tersenyum di tengah tangis. Nadia berlutut dan memeluknya erat. “Maafkan Ibu karena terlambat pulang.” Raka menggeleng. “Ibu tidak terlambat. Ibu akhirnya pulang.” Arman ikut berlutut, tetapi masih ragu. Nadia kemudian mengulurkan tangannya. “Kita tidak bisa mengembalikan enam tahun itu.” Arman menggenggamnya. Nadia melanjutkan, “Tapi kita bisa memastikan tidak ada seorang pun mengambil hari berikutnya dari kita.”
Beberapa bulan kemudian, sebuah makam tanpa nama yang dulu digunakan untuk menutupi kematian Nadia akhirnya dibuka kembali. Identitas perempuan tersebut ditemukan dan keluarganya mendapatkan kesempatan untuk memakamkannya dengan layak. Vanessa serta para kaki tangannya dijatuhi hukuman atas pemalsuan dokumen, penculikan identitas, penipuan, dan konspirasi. Di vila Uluwatu yang sama, tidak ada lagi pesta besar. Hanya ada makan malam kecil saat matahari tenggelam. Nadia duduk di antara Arman dan Raka, kini tanpa seragam pelayan. Raka menaruh sebuah foto keluarga baru di atas meja. “Sekarang Ibu tidak akan pergi lagi, kan?” Nadia mencium dahinya. “Tidak ada yang bisa menjanjikan hidup tanpa perpisahan, Sayang. Tapi Ibu berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu dengan sengaja.” Arman menatap Nadia. “Dan aku berjanji tidak akan pernah lagi membiarkan rasa takut lebih kuat daripada kebenaran.” Raka tersenyum lebar, lalu menarik tangan keduanya agar saling menggenggam. “Kalau begitu, mulai sekarang kita bertiga.” Nadia tersenyum sambil menangis. “Bukan mulai sekarang, Raka.” Ia menatap Arman, kemudian memeluk putranya. “Kita selalu bertiga. Kita hanya membutuhkan enam tahun untuk menemukan jalan pulang.”
Comments (0)
Loading comments...

















