070TID-Pria Kotor Itu Menghentikan Sang Miliarder Minum Anggur… Lalu Menuduh Ratih Ingin Membunuhnya!

Ratih menatap gelas anggur merah yang masih terulur di tangan Arman. Wajahnya yang tadi penuh keyakinan mendadak pucat, sementara angin laut menerbangkan ujung gaunnya. Beberapa tamu mulai saling berbisik, tetapi Arman tidak mengalihkan pandangan sedikit pun. “Kenapa diam, Ratih?” tanyanya dingin. “Bukankah tadi kau bilang Raka hanya pembuat masalah?” Ratih mundur setengah langkah. “Aku… aku hanya tidak suka anggur itu.” Arman mengangkat alis. “Aneh. Kau yang memilih botolnya, kau yang meminta kapten menyajikannya, dan sekarang kau takut menyentuhnya?” Raka mengepalkan tangan, menahan amarah. “Pak, jangan biarkan dia mengarang alasan lagi. Saya melihat sendiri apa yang dia lakukan sebelum kapal berangkat.” Ratih langsung membentak, “Bohong! Jangan percaya dia!” Namun suara Ratih bergetar begitu jelas sehingga semua orang di dek menyadari sesuatu sedang disembunyikan.
Arman perlahan menurunkan gelas, tetapi bukan karena percaya kepada Ratih. Ia meletakkannya dengan hati-hati di atas meja dan memanggil kapten. “Tutup akses keluar. Tidak seorang pun meninggalkan kapal.” Ratih langsung panik. “Arman, apa-apaan ini? Kau memperlakukanku seperti penjahat!” Arman menjawab tanpa emosi, “Kalau kau tidak bersalah, seharusnya kau tidak takut.” Raka lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya yang berdebu. Layarnya retak, tetapi sebuah rekaman masih tersimpan di sana. “Saya mengikuti orang yang Ratih temui pagi tadi,” katanya. Ratih berteriak, “Berikan ponsel itu kepadaku!” Ia hendak maju, tetapi Arman mengangkat satu tangan. “Jangan sentuh dia.” Raka menekan tombol putar. Dari ponsel terdengar suara Ratih sendiri berbicara dengan seseorang tentang “gelas milik Arman” dan pembayaran setelah semuanya selesai. Wajah para tamu berubah tegang. Arman memandang Ratih dan berkata pelan, “Sekarang, katakan lagi bahwa dia berbohong.”
Ratih terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa gugup. “Rekaman bisa dipalsukan.” Raka membalas, “Kalau begitu kita periksa botol dan gelasnya.” Kapten segera memanggil petugas keamanan kapal yang membawa kotak penyimpanan. Arman memerintahkan, “Jangan buang apa pun. Simpan gelas ini sebagai bukti.” Ratih mulai kehilangan kendali. “Kau benar-benar memilih orang kotor ini daripada aku?” Arman menatapnya tajam. “Aku memilih kebenaran.” Kalimat itu membuat Ratih membeku. Raka kemudian mengungkap alasan sebenarnya ia datang dalam keadaan berantakan. “Pak, orang-orang suruhannya mengejar saya dari pelabuhan. Mereka mengambil tas saya, menghancurkan mobil saya, dan mencoba mencegah saya naik kapal.” Ratih menggeleng cepat. “Tidak! Aku tidak pernah menyuruh siapa pun!” Raka mendekat satu langkah. “Lalu bagaimana mereka tahu saya membawa rekaman ini?” Untuk pertama kalinya, Ratih benar-benar tidak mampu menjawab.
Arman kemudian mengambil ponselnya sendiri dan membuka sebuah pesan yang baru masuk. Ia membaca sebentar, lalu wajahnya mengeras. “Laboratorium pribadi keluarga baru mengirim hasil awal dari sampel botol cadangan.” Ratih menatapnya dengan mata membelalak. “Kau… sudah memeriksanya?” Arman menjawab, “Aku mulai curiga sejak kau memaksa semua staf lama diganti minggu lalu.” Raka menatap Arman, terkejut karena ternyata sang miliarder telah memperhatikan lebih banyak daripada yang ia kira. Arman melanjutkan, “Ada zat berbahaya di dalam botol yang seharusnya disajikan khusus untukku.” Ratih segera menangis. “Aku dijebak! Seseorang ingin menghancurkanku!” Arman mendekatinya. “Siapa?” Ratih terdiam. “Sebut namanya.” Bahunya mulai gemetar. “Aku tidak bisa.” Arman menjawab, “Bukan tidak bisa. Kau takut.” Ratih akhirnya berbisik, “Kalau aku bicara, mereka akan membunuhku.” Suasana di atas kapal berubah total. Pengkhianatan itu ternyata jauh lebih besar daripada sekadar satu gelas anggur.
Raka menatap Ratih dengan marah. “Jadi memang ada orang lain?” Ratih menutup wajahnya sesaat sebelum berteriak, “Kalian tidak mengerti! Aku juga terjebak!” Arman tidak menunjukkan belas kasihan. “Terjebak tidak membuatmu berhak membunuhku.” Ratih menangis semakin keras. “Mereka mengancam keluargaku. Mereka bilang kalau aku tidak mengikuti perintah, adikku akan hilang.” Raka menyela, “Lalu kenapa kau membayar orang untuk mengejar saya?” Ratih menjawab lirih, “Karena aku tahu kau sudah melihat terlalu banyak.” Arman menggeleng kecewa. “Kau masih memilih menyelamatkan dirimu dengan mengorbankan orang lain.” Ratih tiba-tiba berlutut di lantai dek. “Arman, tolong. Aku memang bersalah, tapi aku tidak ingin semuanya sampai sejauh ini.” Arman menatapnya lama. “Kau punya banyak kesempatan untuk berhenti. Kau bahkan menampar orang yang datang menyelamatkan hidupku.”
Sirene kapal penjaga pantai terdengar dari kejauhan. Ratih langsung menoleh ke arah laut dan menyadari semuanya telah berakhir. Arman ternyata sudah menghubungi pihak berwenang begitu mendengar tuduhan Raka. “Kau memanggil polisi?” tanya Ratih dengan suara pecah. Arman menjawab, “Aku memanggil orang-orang yang akan mencari tahu siapa dalang sebenarnya.” Ratih tiba-tiba berdiri dan memohon, “Kalau aku memberi nama mereka, lindungi adikku.” Arman menjawab tegas, “Berikan semua bukti, lalu hukum yang akan menentukan sisanya.” Ratih menarik napas panjang. “Orang yang mengatur semuanya adalah seseorang dari perusahaanmu sendiri.” Raka terkejut. “Siapa?” Ratih menatap Arman dengan ketakutan. “Direktur utama yang selama ini kau anggap seperti anak sendiri.” Arman terdiam. Kesedihan singkat melintas di wajahnya sebelum berubah menjadi kemarahan dingin. “Jadi pengkhianatan ini dimulai dari rumahku sendiri.”
Beberapa jam kemudian, Ratih dibawa pergi oleh petugas setelah menyerahkan seluruh pesan, rekening rahasia, dan rekaman percakapannya. Bukti itu akhirnya membongkar jaringan pengkhianatan di perusahaan Arman, dan sang direktur utama ditangkap sebelum sempat melarikan diri dari Indonesia. Di dermaga, Arman berdiri berhadapan dengan Raka yang masih mengenakan pakaian kotor. “Hari ini kau menyelamatkan hidupku,” katanya. Raka menggeleng. “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan siapa pun.” Arman tersenyum tipis. “Tidak semua orang berani kehilangan segalanya demi kebenaran.” Raka menatapnya. “Lalu bagaimana dengan Ratih?” Arman melihat mobil polisi menjauh. “Dia akan mempertanggungjawabkan pilihannya, tetapi kesaksiannya juga menyelamatkan keluarganya dan membantu membongkar semuanya.” Sebelum pergi, Arman menepuk bahu Raka. “Mulai besok, datang ke kantorku. Bukan sebagai orang yang meminta pekerjaan, tetapi sebagai orang yang sudah membuktikan integritasnya.” Raka tersenyum untuk pertama kalinya. “Saya tidak menjanjikan akan selalu setuju dengan Bapak.” Arman tertawa kecil. “Bagus. Setelah hari ini, orang seperti itulah yang paling kubutuhkan.”
Comments (0)
Loading comments...

















