068TID-Dua Anak Kotor Menghentikan Pernikahan Mewah… Surat dari Ibu Mereka Membuat Pengantin Pria Membeku

Dimas menatap Arga dan Lila seolah seluruh suara di ballroom lenyap dari dunia. Jemarinya gemetar saat membalik foto lama itu. Di belakang foto tertulis sebuah nama dengan tinta yang hampir pudar: Laras. Nama itu menghantam ingatannya seperti petir. “Ya Tuhan… Laras…” bisiknya. Arga langsung mengangkat wajah. “Bapak kenal Ibu kami?” Dimas berlutut tanpa memedulikan celana mahalnya menyentuh lantai yang kotor oleh jejak kaki anak-anak itu. Matanya berkaca-kaca ketika melihat bentuk mata Arga yang begitu mirip dirinya saat muda. Namun sebelum ia menjawab, Vanessa berteriak, “Jangan percaya mereka! Foto itu bisa saja palsu!” Dimas menoleh perlahan. Untuk pertama kalinya, tatapannya kepada calon istrinya bukan lagi cinta, melainkan kecurigaan yang dingin. “Kalau palsu,” katanya pelan, “kenapa kau ketakutan sebelum aku membukanya?”
Wajah Vanessa memucat. Para tamu mulai berbisik. Arga menurunkan Lila dengan hati-hati lalu menyerahkan surat ibunya kepada Dimas. “Ibu bilang… kalau Bapak masih memiliki hati yang sama seperti dulu, Bapak akan membaca sampai akhir.” Dimas membuka surat itu. Tulisan Laras membuat napasnya tercekat. Laras menjelaskan bahwa sebelas tahun sebelumnya ia mengandung anak Dimas, tetapi seseorang datang membawa bukti palsu bahwa Dimas telah memilih wanita lain dan mengancam akan menghancurkan keluarga Laras jika ia kembali. Dimas membaca keras dengan suara pecah, “‘Aku tidak pernah meninggalkanmu karena berhenti mencintaimu. Aku pergi karena aku ingin anak kita selamat.’” Arga menggenggam tangan Lila. “Ibu meninggal tiga hari lalu,” katanya. “Sebelum meninggal, Ibu menyuruh kami mencari Bapak.” Dimas menutup mulutnya, sementara air matanya akhirnya jatuh. “Tiga hari… dan kalian datang sejauh ini sendirian?”
Lila yang sejak tadi diam akhirnya melangkah kecil mendekati Dimas. “Kak Arga menggendong aku kalau aku capek,” ucapnya lirih. “Kami tidur di musala, di terminal… Kakak bilang kami tidak boleh menyerah karena Ibu menunggu kami menepati janji.” Dimas menunduk, hancur melihat sepatu kecil Lila yang penuh lumpur. Ia membuka kedua tangannya, tetapi berhenti sebelum menyentuh mereka. “Aku bahkan tidak tahu apakah aku pantas meminta kalian mendekat.” Arga memandangnya lama, lalu bertanya dengan suara bergetar, “Kalau Bapak memang ayah kami… kenapa Bapak tidak pernah mencari kami?” Pertanyaan itu membuat Dimas seperti kehilangan kekuatan. “Karena aku diberi tahu bahwa ibumu menikah dengan orang lain dan pergi ke luar negeri. Aku bodoh karena mempercayainya.” Tiba-tiba seorang wanita tua di antara tamu berdiri dan menunjuk Vanessa. “Aku ingat Laras! Vanessa pernah datang ke rumah kami bertahun-tahun lalu menanyakan alamat keluarganya!”
Ballroom langsung bergemuruh. Vanessa mundur. “Itu fitnah!” teriaknya. Dimas mengambil ponselnya, lalu memperlihatkan foto surat kepada ibunya yang berdiri beberapa meter darinya. Sang ibu membaca beberapa baris dan wajahnya berubah. “Dimas… nama pengacara yang disebut Laras ini adalah pengacara keluarga Vanessa.” Semua kepala menoleh. Vanessa mulai menangis. “Aku hanya ingin mempertahankanmu!” Dimas mendekatinya. “Apa yang kau lakukan?” Vanessa menggeleng cepat. “Aku tidak tahu soal anak-anak itu!” Arga tiba-tiba merogoh tas kecil lusuhnya. “Ibu juga memberikan ini.” Ia mengeluarkan rekaman suara dari ponsel tua. Suara Laras terdengar lemah namun jelas: “Vanessa datang kepadaku sebelas tahun lalu. Dia menunjukkan surat palsu dan berkata Dimas tidak menginginkan bayi kami.” Dimas menatap Vanessa dengan mata merah. “Sebelas tahun, Vanessa. Kau mencuri sebelas tahun hidupku.”
Vanessa jatuh terduduk sambil terisak. “Aku mencintaimu, Dimas! Aku takut kehilanganmu!” Dimas menggeleng. “Cinta tidak menghancurkan hidup orang lain lalu menyebutnya pengorbanan.” Ia melepas cincin pernikahan dari jarinya dan meletakkannya di atas meja. “Pernikahan ini batal.” Vanessa mencoba meraih tangannya. “Dimas, dengarkan aku!” Namun Dimas mundur. “Yang perlu kudengarkan sudah terlambat sebelas tahun.” Ia kemudian berbalik kepada para tamu. “Saya meminta maaf karena malam ini kalian menyaksikan sesuatu yang seharusnya menjadi hari bahagia. Tapi dua anak ini datang membawa kebenaran yang selama ini dikubur.” Arga segera berkata, “Kami tidak datang untuk mengambil uang Bapak.” Dimas tersentak. Arga melanjutkan, “Ibu cuma ingin kami tahu siapa ayah kami sebelum kami benar-benar sendirian.” Dimas menjawab dengan suara pecah, “Mulai malam ini, kalian tidak akan pernah sendirian lagi.”
Beberapa hari kemudian, tes DNA resmi keluar. Dimas duduk bersama Arga dan Lila di rumahnya, amplop hasil pemeriksaan masih tertutup di atas meja. Arga terlihat tegang. “Kalau hasilnya bilang Bapak bukan ayah kami… apakah kami harus pergi?” Dimas langsung menarik amplop itu menjauh. “Tidak.” Arga terkejut. Dimas menatap kedua anak itu. “Apa pun yang tertulis di sana, kalian sudah datang kepadaku membawa pesan terakhir ibumu. Aku tidak akan mengirim kalian kembali ke jalan.” Lila bertanya polos, “Tapi Bapak mau membukanya?” Dimas mengangguk dan membaca hasilnya. Matanya kembali basah. Ia tersenyum untuk pertama kalinya sejak malam pernikahan. “Probabilitas hubungan biologis: 99,99 persen.” Arga menahan napas. Dimas berbisik, “Kalian anak-anakku.” Lila langsung memeluk pinggangnya. “Berarti aku boleh panggil Ayah?” Dimas menangis sambil memeluk keduanya. “Aku sudah menunggu kata itu selama sebelas tahun tanpa menyadarinya.”
Sebulan kemudian, Dimas membawa Arga dan Lila ke makam Laras. Tidak ada pesta mewah, tidak ada kamera, hanya tiga orang yang akhirnya menjadi keluarga. Arga meletakkan bunga melati di atas makam. “Bu, kami berhasil. Surat Ibu sampai.” Lila menempelkan telapak tangannya pada batu nisan. “Ibu jangan khawatir. Ayah baik.” Dimas berlutut di antara mereka dan berbisik, “Laras, maaf karena aku terlambat mengetahui semuanya. Tapi aku berjanji, tidak satu hari pun lagi akan terbuang.” Arga menoleh. “Ayah… apakah Ibu akan marah karena kita bahagia?” Dimas mengusap rambutnya. “Tidak. Ibumu menempuh semua penderitaan itu justru agar kalian bisa sampai pada kebahagiaan ini.” Lila menggenggam tangan Dimas dan Arga sekaligus. “Kalau begitu, kita pulang?” Dimas tersenyum sambil menggenggam mereka erat. “Ya. Kita pulang.” Dan untuk pertama kalinya, kata “pulang” bukan lagi berarti mencari tempat berlindung bagi dua anak yang kelelahan—melainkan kembali ke sebuah rumah tempat mereka akhirnya benar-benar memiliki keluarga.
Comments (0)
Loading comments...

















