067TID-Dia Memukul Tunangannya di Depan Semua Orang… Lalu Satu Telepon Membuat Keluarganya Pucat

Ruangan pesta pertunangan itu mendadak terasa sesak setelah Maya berbisik, “W... wali kota...” Raka menoleh kepadanya dengan wajah pucat, sementara Nadia tetap berdiri di tengah ruangan dengan saus, serpihan makanan, dan noda darah kecil masih menempel di pelipisnya. Beberapa tamu mulai saling berbisik, tetapi Nadia bahkan tidak menatap mereka. Ia melepaskan cincin pertunangannya perlahan, menggenggamnya sesaat, lalu meletakkannya di atas meja di depan Raka. “Aku datang ke rumah ini sebagai calon istrimu, Raka. Aku tidak pernah meminta keluargamu menyembah nama ayahku. Aku hanya berharap kalian menghormatiku sebagai manusia.” Raka menelan ludah. “Nadia, dengarkan aku... aku tadi kehilangan kendali.” Nadia menggeleng. “Tidak. Malam ini justru aku akhirnya melihat siapa dirimu saat merasa tidak ada yang bisa menghentikanmu.”
Maya segera menghampiri Nadia, panik melihat para tamu mulai merekam dengan ponsel mereka. “Nadia, kita selesaikan ini sebagai keluarga. Jangan membuat kesalahpahaman kecil menghancurkan masa depan kalian.” Nadia menatapnya tanpa emosi. “Kesalahpahaman kecil?” Maya kehilangan kata-kata. Nadia menunjuk pecahan piring di lantai. “Putramu memukulku di depan semua orang, lalu Ibu berkata itu tidak separah itu. Kalau malam ini tidak ada tamu, apakah Ibu masih akan mengatakan hal yang sama?” Seorang perempuan tua dari keluarga Wijaya menundukkan kepala karena malu. Raka mendekat satu langkah. “Aku akan meminta maaf. Aku akan mengganti semuanya.” Nadia tersenyum getir. “Gaunku bisa diganti. Harga diriku tidak bisa kau beli.”
Tak lama kemudian, suara beberapa mobil berhenti di halaman mansion. Tidak ada sirene, tidak ada keributan. Pintu utama terbuka dan Surya Pradana masuk hanya ditemani seorang ajudan. Ia tidak menunjukkan jabatan atau kekuasaan; ia hanya melihat putrinya. Wajahnya yang tegas langsung berubah ketika melihat darah tipis di pelipis Nadia. “Nadia...” Suaranya pecah. Nadia akhirnya menangis seperti anak kecil dan berlari memeluk ayahnya. “Ayah, aku pikir aku kuat... tapi aku takut sekali.” Surya memeluknya erat. “Kamu tidak harus kuat setiap saat, Nak. Selama Ayah masih hidup, kamu selalu punya rumah untuk pulang.” Seluruh ruangan diam. Untuk pertama kalinya malam itu, Raka memahami bahwa pria yang paling ditakutinya tidak datang sebagai pejabat—ia datang sebagai seorang ayah.
Raka buru-buru maju. “Pak Surya, saya bisa menjelaskan.” Surya menoleh perlahan. “Jelaskan.” Raka terdiam beberapa detik sebelum berkata, “Saya marah. Saya melakukan kesalahan. Tapi saya mencintai Nadia.” Surya menatapnya lama. “Cinta?” Ia menunjuk lembut ke arah pelipis putrinya. “Kalau itu caramu mencintai seseorang ketika marah, aku tidak ingin tahu apa yang kau lakukan ketika membencinya.” Maya mencoba mengambil alih. “Pak Surya, keluarga kami bersedia bertanggung jawab. Kita bisa membicarakan ini secara pribadi.” Surya menjawab tenang, “Saya tidak datang untuk membeli kesunyian siapa pun.” Kemudian ia memandang Nadia. “Keputusan ada di tanganmu, Nak. Bukan di tanganku, bukan di tangan mereka.”
Semua mata beralih kepada Nadia. Ia menarik napas panjang, melepas kalung hadiah keluarga Wijaya, lalu meletakkannya di samping cincin pertunangannya. “Raka, selama berbulan-bulan aku mengira sikap kasarmu hanyalah tekanan pekerjaan. Aku terus memaafkan nada bicaramu, kecemburuanmu, caramu mengatur hidupku. Malam ini kau membuatku sadar bahwa aku sedang menunggu dirimu berubah sambil perlahan kehilangan diriku sendiri.” Raka mulai menangis. “Nadia, jangan akhiri semuanya karena satu malam.” Nadia menatap tepat ke matanya. “Bukan satu malam yang mengakhiri semuanya. Satu malam ini hanya membuka mataku terhadap semua malam sebelumnya.” Raka mencoba menyentuh tangannya, tetapi Nadia mundur. “Jangan sentuh aku lagi. Pertunangan kita selesai.”
Maya tiba-tiba berlutut di depan Surya, membuat para tamu terkejut. “Pak Surya, tolong jangan hancurkan keluarga kami. Bisnis kami, reputasi kami... semuanya bisa jatuh.” Surya segera memintanya berdiri. “Bu Maya, berdirilah. Saya tidak menginginkan penghinaan untuk membalas penghinaan.” Maya gemetar. “Lalu apa yang Anda inginkan?” Surya menatap Raka dan kemudian seluruh keluarga Wijaya. “Saya ingin kalian hidup dengan konsekuensi dari pilihan kalian sendiri. Saya tidak akan menggunakan jabatan saya untuk menghancurkan perusahaan kalian. Tetapi saya juga tidak akan menggunakan jabatan saya untuk melindungi kalian dari akibat tindakan malam ini.” Nadia menambahkan pelan, “Dan aku tidak akan diam hanya karena nama keluarga kalian besar.” Maya menutup mulutnya, menyadari bahwa justru penolakan Surya untuk membalas dengan kekuasaan membuat keluarga Wijaya semakin kehilangan muka di hadapan semua orang.
Nadia kemudian meraih tangan ayahnya dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, Raka memanggil dengan suara hancur, “Nadia! Apa benar-benar tidak ada kesempatan kedua?” Nadia berhenti tanpa menoleh. Beberapa detik kemudian ia berbalik, air mata masih mengalir tetapi wajahnya jauh lebih tenang. “Kesempatan kedua diberikan kepada orang yang membuat kesalahan dan berubah, Raka. Bukan kepada orang yang menyakiti seseorang lalu baru menyesal ketika mengetahui siapa ayahnya.” Raka membeku. Nadia menggenggam tangan Surya lebih erat. “Ayah, ayo pulang.” Surya tersenyum tipis. “Pulang, Nak.” Mereka meninggalkan mansion bersama. Di belakang mereka, pesta mewah itu berakhir tanpa musik, tanpa tepuk tangan, dan tanpa pertunangan. Berbulan-bulan kemudian, Nadia membangun hidupnya sendiri jauh dari keluarga Wijaya, sementara Raka harus menghadapi akibat sosial dan pribadi dari perbuatannya. Dan setiap kali seseorang bertanya mengapa Nadia meninggalkan calon suami sekaya itu, jawabannya selalu sama: “Karena malam itu aku belajar bahwa martabat jauh lebih mahal daripada cincin berlian.”
Comments (0)
Loading comments...
















