Logo

065TID-Mereka Mengira Alya Tak Berdaya… Sampai Nama “AYAH” Muncul di Ponselnya

Article image


Nada sambung baru terdengar dua kali ketika seseorang di ujung sana mengangkat telepon. Alya menelan tangis, memeluk bayinya lebih erat, lalu berkata dengan suara yang hampir berbisik, “Ayah… jemput aku sekarang. Aku sudah selesai di sini.” Wajah Raka seketika pucat. Bu Ratna bahkan mundur satu langkah, seolah baru saja mendengar vonis. Dari telepon terdengar suara laki-laki tua yang tenang namun tegas, “Ayah sudah menunggumu mengatakan itu sejak lama. Jangan takut. Mulai detik ini, tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhmu lagi.” Raka langsung mendekat, panik. “Alya, matikan teleponnya! Kita bisa bicara baik-baik!” Alya menatapnya tanpa emosi. “Tadi ketika aku menangis, kamu tidak ingin bicara. Sekarang giliran kalian yang mendengarkan.”
Kurang dari satu jam kemudian, pintu apartemen terbuka. Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun masuk ditemani dua pengacara keluarga. Dialah Surya Mahendra, ayah Alya, seorang pengusaha besar yang selama ini sengaja tidak pernah dibicarakan Alya karena ia ingin menjalani pernikahan tanpa bergantung pada nama keluarganya. Raka berdiri kaku. Bu Ratna memaksakan senyum. “Pak Surya… ini hanya salah paham keluarga.” Surya melihat bekas tamparan di pipi putrinya, luka kecil di bibirnya, lalu memandang cucunya yang masih terisak. Matanya berubah dingin. “Salah paham?” katanya. “Putriku duduk di lantai sambil melindungi bayi kalian, dan kalian menyebutnya salah paham?” Bu Ratna mencoba menjawab, tetapi Surya mengangkat tangan. “Jangan bicara dulu. Saya belum selesai.”
Pengacara kemudian meletakkan sebuah map di atas meja. Raka melihat logo perusahaan di sudut dokumen dan wajahnya langsung kehilangan warna. Surya berkata, “Apartemen ini dibeli atas nama perusahaan keluarga kami. Modal awal usaha yang membuatmu kaya juga berasal dari investasi saya, diberikan melalui perusahaan lain karena Alya memohon agar kamu tidak merasa hidup di bawah bayang-bayang ayah mertuamu.” Raka tertegun. “Tidak… itu tidak mungkin.” Alya akhirnya berdiri perlahan sambil menggendong putrinya. “Aku tidak pernah meminta Ayah memberimu apa pun. Aku hanya meminta beliau percaya kepadamu.” Surya membuka halaman berikutnya. “Dan mulai hari ini, kepercayaan itu selesai.” Raka mengepalkan tangan. “Kalian tidak bisa mengambil semuanya!” Surya menatapnya tajam. “Kami tidak mengambil milikmu. Kami hanya menarik kembali apa yang sejak awal bukan milikmu.”
Bu Ratna mulai panik. Ia mendekati Alya dan mencoba berubah lembut. “Alya, Ibu tadi emosi. Kamu juga tahu bayi menangis membuat Ibu pusing. Jangan hancurkan keluarga hanya karena satu tamparan.” Alya menatap perempuan yang selama berbulan-bulan merendahkannya. “Satu tamparan?” suaranya bergetar, tetapi bukan karena takut. “Bagaimana dengan setiap kali Ibu mengatakan anak perempuan tidak berguna? Bagaimana dengan setiap kali Ibu menyuruhku diam ketika Raka mempermalukanku?” Bu Ratna membela diri, “Ibu hanya ingin kamu menjadi istri yang baik!” Alya menggeleng. “Istri yang baik bukan perempuan yang harus kehilangan harga dirinya supaya suaminya merasa berkuasa.” Ia kemudian menatap Raka. “Dan seorang ayah yang baik tidak pernah membuat putrinya merasa bahwa kelahirannya adalah sebuah kesalahan.”
Raka akhirnya kehilangan kendali. “Aku suamimu! Kamu tidak bisa membawa anakku pergi begitu saja!” Pengacara Surya maju dan berkata tenang, “Semua proses akan dilakukan secara hukum. Rekaman kamera keamanan apartemen juga sudah kami amankan.” Raka membeku. Ia baru teringat kamera kecil di sudut ruang tamu. Alya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kamu selalu bilang tidak ada yang akan percaya padaku.” Raka menjawab lirih, “Alya… aku sedang marah. Aku tidak bermaksud—” Alya memotongnya, “Kamu benar tentang satu hal. Aku memang berubah setelah melahirkan. Aku lelah, rambutku berantakan, dan aku sering menangis. Tapi aku berubah karena aku menjadi ibu. Sedangkan kamu berubah karena akhirnya merasa aku terlalu lemah untuk melawan.” Untuk pertama kalinya, Raka tidak mampu membalas.
Beberapa bulan kemudian, pengadilan mengabulkan perceraian mereka. Bukti kekerasan, penghinaan, dan rekaman kejadian malam itu memperkuat posisi Alya dalam perkara pengasuhan. Raka kehilangan sejumlah fasilitas perusahaan setelah investasi keluarga Surya secara sah dihentikan. Bu Ratna menjual banyak barang mewahnya untuk menutup utang yang sebelumnya mereka abaikan. Ketika Raka meminta bertemu Alya, ia datang tanpa jam mahal dan tanpa kesombongan yang dahulu memenuhi wajahnya. “Aku kehilangan hampir semuanya,” katanya. Alya menggendong putrinya dan menjawab, “Tidak, Raka. Kamu kehilangan semuanya ketika memilih mempermalukan perempuan yang mencintaimu.” Raka menunduk. “Apa tidak ada kesempatan kedua?” Alya menjawab pelan, “Kesempatan kedua mungkin ada untuk menjadi ayah yang lebih baik. Tapi bukan untuk menjadi suamiku lagi.”
Setahun setelah malam itu, Alya berdiri di balkon rumah ayahnya sambil melihat putrinya belajar berjalan. Surya berdiri beberapa langkah di belakangnya. Bayi kecil yang dahulu dihina karena terlahir perempuan kini tertawa sambil memanggil ibunya. Surya tersenyum dan berkata, “Ayah bisa memberimu rumah, uang, dan perlindungan. Tapi keputusan untuk bangkit tetap milikmu.” Alya mengusap air mata bahagia. “Dulu aku menelepon Ayah karena kupikir aku tidak punya kekuatan lagi.” Surya menggeleng. “Tidak, Nak. Kamu menelepon karena akhirnya sadar bahwa kamu tidak perlu terus membuktikan kekuatanmu dengan bertahan di tempat yang menghancurkanmu.” Alya mengangkat putrinya, mencium keningnya, lalu berbisik, “Dengarkan Mama. Jangan pernah percaya kalau ada yang mengatakan kamu tidak berharga hanya karena kamu perempuan.” Putrinya tertawa kecil dalam pelukannya. Alya menatap langit Jakarta dan berkata, “Malam itu mereka mengira aku akan kehilangan semuanya. Ternyata, malam itu adalah saat aku mendapatkan hidupku kembali.”

Comments (0)

Loading comments...

01tid-“IBU DIKURUNG DI BAWAH RUMAH!”
Nara membeku sambil menatap melewati bahu ayahnya. Tangannya gemetar hebat ketika Arya perlahan berbalik. Di belakangnya berdiri Ratih, kepala pengurus rumah yang telah bekerja bersama keluarga itu selama hampir sepuluh tahun. Wajah perempuan itu pucat, tetapi ia masih mencoba tersenyum. “Nara, kamu pasti salah lihat,” katanya cepat. Nara langsung bersembunyi di belakang Arya. “Bukan! Tante Ratih yang membawa Ibu ke bawah!” Seluruh ruangan mendadak sunyi. Arya menatap Ratih tanpa berkedip. “Ulangi perkataan anakku dan katakan dia berbohong.” Ratih mundur satu langkah. “Pak Arya, saya bisa menjelaskan.” Arya menjawab dingin, “Tidak. Sekarang kamu hanya menjawab satu pertanyaan: kenapa istriku dikurung di bawah rumahku sendiri?” Ratih mencoba berjalan menuju pintu, tetapi dua petugas keamanan segera menutup jalannya. Dari dalam lubang bawah tanah terdengar suara Maya, lemah namun tegas. “Arya, jangan biarkan dia pergi!” Arya langsung menoleh. Dua penjaga turun dan beberapa saat kemudian membawa Maya naik perlahan. Begitu Nara melihat ibunya, ia berlari dan memeluk pinggang Maya sambil menangis. “Ibu! Nara pikir Ibu tidak akan kembali.” Maya memeluk putrinya erat. “Ibu di sini, Sayang. Ibu tidak akan meninggalkanmu.” Arya berdiri di samping mereka dengan mata merah. Ratih tiba-tiba berkata, “Saya tidak melakukan ini sendirian!” Semua orang menoleh. Arya mendekatinya. “Siapa?” Ratih menggigit bibir. “Orang yang paling Anda percaya selama ini.” Sebelum Ratih mengatakan nama itu, terdengar suara langkah dari tangga utama. Dimas, adik kandung Arya sekaligus direktur keuangan perusahaan keluarga, muncul dengan wajah tegang. “Apa yang terjadi di sini?” tanyanya sambil berpura-pura terkejut. Maya langsung mencengkeram lengan Arya. “Dia.” Satu kata itu membuat semua orang membeku. Dimas tertawa kecil. “Maya, kamu baru keluar dari tempat gelap. Mungkin kamu bingung.” Maya menatapnya tajam. “Kamu yang memerintahkan Ratih mengurungku setelah aku menemukan rekening rahasiamu.” Arya perlahan menghadap adiknya. “Rekening apa?” Dimas menjawab cepat, “Dia mengarang.” Namun Ratih tiba-tiba berteriak, “Tidak! Pak Dimas memang menyuruh saya! Dia bilang kalau saya menolak, keluarga saya akan dihancurkan!” Wajah Dimas berubah. Ia berusaha maju, tetapi keamanan langsung menahannya. Arya tidak menyentuhnya. Ia hanya berdiri beberapa langkah di depan adiknya, jauh lebih menakutkan karena suaranya tetap tenang. “Kamu mengurung istriku karena uang?” Dimas akhirnya kehilangan kendali. “Bukan cuma uang! Selama hidup, semuanya selalu milikmu! Perusahaan, rumah, nama keluarga, bahkan kepercayaan Ayah!” Arya menatapnya lama. “Jadi karena iri, kamu mengurung seorang ibu dan membuat anak enam tahun hidup dalam ketakutan?” Dimas membalas, “Aku hanya butuh waktu agar Maya tidak bicara.” Maya berkata tajam, “Kamu salah. Selama tiga hari aku mendengar semuanya. Nomor rekening, nama perusahaan cangkang, dan rencana menjual saham keluarga. Aku mengingatnya.” Arya meminta asistennya mengambil laptop dari ruang kerja. Beberapa menit kemudian, bukti transfer, dokumen palsu dan rekaman kamera keamanan lama muncul di layar besar ruang keluarga. Ratih menunjuk salah satu rekaman. “Itu malam ketika Pak Dimas membawa Bu Maya ke lorong belakang.” Dimas langsung berteriak, “Matikan itu!” Arya menjawab, “Kenapa? Bukankah tadi kamu bilang Maya mengarang semuanya?” Dimas terdiam. Maya lalu mengeluarkan sebuah kartu memori kecil yang selama ini ia sembunyikan di jahitan rok. “Aku sempat mengambil ini sebelum mereka mengurungku.” Arya memasukkannya ke laptop. Suara Dimas terdengar jelas dari rekaman: “Selama Maya di bawah sana, kita punya waktu memindahkan semuanya.” Nara memeluk ibunya lebih erat. Arya berkata pelan, “Sekarang semuanya selesai.” Sirene polisi terdengar dari luar gerbang mansion. Dimas panik. “Arya, jangan lakukan ini! Aku adikmu!” Arya menatapnya dengan kecewa. “Justru karena kamu adikku, aku memberimu kepercayaan yang tidak kuberikan kepada siapa pun.” Dimas mencoba memohon, “Kita bisa menyelesaikan ini sebagai keluarga.” Maya menjawab sebelum Arya sempat bicara, “Keluarga tidak mengurung keluarga di bawah tanah.” Ratih mulai menangis. “Saya akan memberikan semua bukti. Saya siap bersaksi.” Arya mengangguk kepada petugas keamanan. “Serahkan mereka kepada polisi. Jangan ada yang menghapus satu file pun.” Ketika Dimas dibawa pergi, ia berteriak, “Kamu akan menyesal!” Arya hanya menjawab, “Tidak. Penyesalan terbesarku adalah tidak melihat siapa dirimu lebih cepat.” Beberapa minggu kemudian, mansion itu terasa berbeda. Pintu rahasia bawah tanah telah ditutup permanen, dan ruang tersebut dibongkar agar tidak pernah menjadi tempat ketakutan lagi. Maya pulih perlahan, sementara Nara kembali bisa tidur tanpa memegang tangan ibunya sepanjang malam. Suatu sore, mereka bertiga berdiri di taman belakang. Nara bertanya pelan, “Ayah, apakah orang jahat selalu terlihat jahat?” Arya berlutut di hadapannya. “Tidak, Sayang. Kadang mereka tersenyum, makan bersama kita, bahkan memanggil kita keluarga. Karena itu kita harus melihat tindakan, bukan hanya kata-kata.” Maya menggenggam tangan Arya. “Dan kita tidak boleh diam ketika melihat sesuatu yang salah.” Nara tersenyum kecil. “Kalau begitu Nara sudah melakukan hal yang benar?” Maya memeluknya erat. “Kamu bukan hanya melakukan hal yang benar. Kamu menyelamatkan Ibu.” Arya mencium kepala putrinya dan berkata, “Rumah ini hampir dihancurkan oleh rahasia. Tapi mulai hari ini, tidak ada lagi kebohongan di antara kita.”