Logo

063TID-“Kalian Akan Kehilangan Semuanya!” Mereka Menertawakan Alya, Lalu Bos Besar Itu Datang

Article image

Ruangan makan itu mendadak senyap setelah pria berjas gelap tersebut membungkuk dalam-dalam di hadapan Alya. Senyum kecil di bibir Alya membuat Ratna kehilangan warna wajah, sementara Arman berdiri kaku seperti baru menyadari bahwa selama ini ia sama sekali tidak mengenal perempuan yang dinikahinya. Ratna mencengkeram meja untuk menahan tubuhnya. “Bos? Apa maksud Anda memanggil dia Bos?” tanyanya dengan suara bergetar. Pria itu menegakkan badan dan menjawab tenang, “Karena Nona Alya adalah pemilik sebenarnya Arunika Group, perusahaan induk yang selama tiga tahun terakhir membiayai seluruh bisnis keluarga kalian.” Gelas di tangan seorang tamu jatuh dan pecah. Arman menatap Alya dengan mata membesar. “Alya… kau bercanda, kan?” Alya menyeka darah tipis di sudut bibirnya, lalu berkata dingin, “Aku berharap semua ini hanya lelucon, Arman. Tapi dua tamparan ibumu tadi akhirnya membuatku berhenti berpura-pura.”

Ratna segera mencoba menguasai keadaan. Ia melangkah mendekat dengan senyum gugup yang dipaksakan. “Alya, Ibu hanya sedang emosi. Kita keluarga. Jangan membuat masalah kecil menjadi besar.” Alya menatap cincin pernikahannya yang masih tergeletak di atas piring, lalu menggeleng perlahan. “Masalah kecil?” tanyanya. “Selama dua tahun aku memasak untuk kalian, membersihkan rumah ini, menerima hinaan, dan membiarkan kalian menganggapku perempuan miskin yang menumpang hidup.” Arman mencoba memegang lengannya, tetapi Alya mundur. “Sayang, dengarkan aku. Aku tidak pernah tahu Ibu akan menamparmu.” Alya tertawa pendek tanpa kebahagiaan. “Kau duduk dua meter dariku, Arman. Kau melihat semuanya.” Suaminya menunduk. Alya melanjutkan, “Yang paling menyakitkan bukan tangan ibumu. Yang paling menyakitkan adalah melihat suamiku memilih diam.”

Pria yang tadi membungkuk kepada Alya kemudian membuka tas dokumennya. “Nona, semua dokumen yang Anda minta sudah siap.” Ratna langsung menatapnya curiga. “Dokumen apa?” Alya mengambil sebuah map, tetapi tidak membukanya. “Surat penghentian seluruh fasilitas kredit dan investasi keluarga kalian mulai malam ini.” Ratna tersentak. “Kau tidak bisa melakukan itu!” Alya menatapnya tanpa emosi. “Bisa. Karena restoran kalian berdiri dengan modal perusahaanku. Rumah ini dijaminkan kepada anak perusahaan milikku. Bahkan proyek hotel yang selama ini Arman banggakan hanya bertahan karena aku menandatangani pendanaannya secara diam-diam.” Arman mundur satu langkah. “Jadi… semua keberhasilanku…” Alya memotongnya, “Aku memberimu kesempatan untuk membuktikan diri. Sayangnya, kau mengira keberuntungan itu adalah kehebatanmu sendiri.”

Ratna tiba-tiba berubah dari marah menjadi memohon. “Alya, dengarkan Ibu. Kita bisa memperbaiki semuanya.” Alya menatap perempuan yang beberapa menit lalu menamparnya dua kali di depan puluhan tamu. “Memperbaiki apa? Wajahku? Harga diriku? Atau tahun-tahun ketika Ibu menyuruhku makan di dapur supaya tamu tidak melihat menantu yang dianggap memalukan?” Ratna mulai menangis. “Ibu salah.” Alya mengangguk. “Benar. Tapi kesalahan terbesar Ibu bukan merendahkanku karena mengira aku miskin. Kesalahan terbesar Ibu adalah percaya bahwa orang miskin pantas direndahkan.” Para tamu saling berpandangan dengan malu. Alya kemudian menatap mereka satu per satu. “Malam ini bukan tentang kekayaanku. Ini tentang bagaimana kalian memperlakukan seseorang ketika kalian yakin dia tidak punya kekuasaan.”

Arman akhirnya jatuh berlutut di depan Alya. “Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku hanya karena aku takut melawan Ibu.” Mata Alya memerah, tetapi suaranya tetap tenang. “Aku pernah sangat mencintaimu, Arman.” Ia menunjuk cincin yang tergeletak di piring. “Karena itu aku menyembunyikan namaku, hartaku, dan keluargaku. Aku ingin tahu apakah ada seseorang yang bisa mencintaiku tanpa mengetahui apa yang kumiliki.” Arman menangis. “Beri aku satu kesempatan.” Alya menggeleng. “Kesempatanmu datang setiap kali ibumu menghina aku dan kau memilih diam.” Arman meraih ujung gaunnya, tetapi Alya mundur. “Mulai malam ini, kau bebas dari istri yang kau anggap beban.” Alya menatapnya lama. “Dan aku akhirnya bebas dari suami yang hanya berani mencintaiku ketika mengetahui siapa aku sebenarnya.”

Pria berjas itu kemudian menyerahkan ponsel kepada Alya. Setelah membaca sebuah pesan, Alya berkata, “Jangan khawatir. Aku tidak akan membuat keluarga kalian kehilangan segalanya seperti ancamanku tadi.” Ratna langsung mengangkat kepala dengan harapan. “Jadi kau memaafkan kami?” Alya tersenyum tipis. “Tidak.” Ruangan kembali sunyi. “Aku hanya tidak ingin menjadi seperti kalian.” Ia menjelaskan bahwa rumah itu tidak akan disita selama Ratna masih hidup, dan seluruh pegawai keluarga tetap menerima gaji. Namun bisnis keluarga harus berdiri sendiri tanpa uang Alya. “Kalau kalian memang sehebat yang selalu kalian katakan, buktikan tanpa menggunakan hartaku.” Ratna menangis semakin keras. “Dan bagaimana dengan kami?” Alya menjawab, “Kalian akan hidup dari hasil kerja kalian sendiri. Mungkin dengan begitu kalian akan belajar menghormati orang yang setiap hari membawa makanan ke meja kalian.”

Alya kemudian mengambil cincin pernikahannya dari piring dan meletakkannya di telapak tangan Arman. “Simpan ini. Bukan sebagai kenangan tentang istri kaya yang kau kehilangan, tapi tentang perempuan biasa yang gagal kau lindungi.” Arman terisak. “Alya, jangan pergi.” Alya berbalik menuju pintu, tetapi Ratna memanggilnya sekali lagi. “Apa kau tidak ingin membalas dua tamparan itu?” Alya berhenti, menoleh, lalu tersenyum tenang. “Aku sudah membalasnya.” Ratna terdiam. Alya melanjutkan, “Besok kalian akan bangun tanpa kekuasaan yang selama ini membuat kalian merasa lebih tinggi dari orang lain. Dan setiap kali melihat meja makan ini, kalian akan mengingat perempuan yang kalian hina saat membawa semangkuk sup.” Ia berjalan keluar bersama sang pengusaha. Sebelum pintu tertutup, Arman berteriak, “Siapa sebenarnya kau, Alya?” Alya menoleh untuk terakhir kalinya. “Seseorang yang akhirnya tahu nilainya sendiri.” Pintu tertutup, meninggalkan Ratna dan Arman dalam kesunyian, sementara untuk pertama kalinya malam itu, Alya berjalan pergi tanpa menundukkan kepala.

Comments (0)

Loading comments...

Seorang Miliarder Mengenali Rasa Kue Buatan Pembantu—Jawaban Terakhirnya Membongkar Rahasia 27 Tahun
Arya masih terpaku menatap Sari. Suasana ruang makan terasa membeku. Akhirnya ia bertanya pelan, “Siapa nama ibumu?” Sari menelan ludah sebelum menjawab hati-hati. “Namanya Rani Utami, Pak,” jawab Sari. Sendok di tangan Ibu Mira langsung terlepas. Bunyi kecil itu membuat semua tamu menoleh kepadanya dengan penuh curiga. Wajah Arya seketika kehilangan warna. Nama itu membawa kembali kenangan dua puluh delapan tahun lalu, tentang seorang perempuan sederhana yang pernah sangat dicintainya diam-diam. Arya berdiri perlahan. “Rani masih hidup?” tanyanya dengan suara bergetar. Sari mengangguk. “Masih, Pak. Tapi Ibu sakit dan sudah lama tidak bekerja.” Ibu Mira tiba-tiba berkata, “Cukup, Arya. Jangan mempermalukan keluarga di depan tamu.” Namun kali ini Arya tidak menurut. Tatapannya justru berubah tajam kepadanya. “Apa yang Ibu sembunyikan dariku?” tanya Arya. Ruangan kembali sunyi. Mira mencoba mengalihkan pembicaraan, tetapi Arya segera meminta semua tamu meninggalkan ruang makan. Setelah pintu tertutup, Mira akhirnya menangis. Ia mengaku dahulu memaksa Rani meninggalkan Arya karena menganggap perempuan dari keluarga miskin tidak pantas menjadi menantu Wijaya. Lebih mengejutkan lagi, Mira mengungkap bahwa saat Rani pergi, perempuan itu sedang mengandung. Arya terdiam, sementara Sari menatap mereka tanpa mengerti apa yang sedang terjadi. Arya menoleh kepada Sari dengan mata basah. “Berapa umurmu?” Sari menjawab, “Dua puluh tujuh tahun.” Jawaban itu membuat dada Arya terasa seperti dihantam kenyataan. Mira akhirnya mengaku bahwa selama bertahun-tahun ia mengirim uang kepada Rani agar tidak kembali. Namun Rani berhenti menerima bantuan setelah mengetahui syarat tersembunyi di baliknya. Sari berdiri dengan tubuh gemetar. “Jadi Ibu saya mengenal keluarga ini?” Arya tidak langsung menjawab. Ia hanya meminta alamat Rani dan berjanji akan menemuinya malam itu. Tanpa mengganti pakaian, Arya meninggalkan mansion bersama Sari. Mobil mewah itu berhenti di sebuah rumah kecil sederhana di pinggiran Jakarta yang jauh dari kehidupan keluarga Wijaya. Ketika pintu terbuka, seorang perempuan berusia lima puluhan berdiri dengan tubuh lemah. Begitu melihat Arya, cangkir di tangannya jatuh dan pecah di lantai. “Rani...” suara Arya nyaris tidak terdengar. Perempuan itu menutup mulutnya, menahan tangis. “Aku kira kamu tidak akan pernah mengetahui keberadaan kami,” katanya lirih. Sari menatap ibunya. “Ibu, apa maksudnya?” Rani memegang tangan putrinya, lalu mengakui bahwa Arya adalah ayah kandung Sari yang selama ini sengaja disembunyikan. Arya langsung berlutut di depan Sari. “Aku tidak pernah meninggalkanmu karena aku mau.” Sari menangis, namun ia meminta waktu untuk menerima kebenaran sebesar itu. Beberapa hari kemudian, Arya memindahkan Rani ke rumah sakit terbaik. Ia juga memerintahkan penyelidikan internal untuk mengetahui bagaimana Mira memisahkan mereka selama puluhan tahun. Mira akhirnya meminta maaf kepada Rani dan Sari. “Aku menghancurkan hidup kalian karena kesombonganku.” Rani menjawab tenang, “Maaf bukan untuk menghapus masa lalu, tetapi menghentikan kebencian.” Arya kemudian menawarkan Sari posisi di bisnis keluarga, tetapi Sari menolak fasilitas istimewa. Ia memilih masuk sebagai trainee di divisi kuliner dan membuktikan kemampuannya sendiri. Beberapa bulan kemudian, lapis legit kenari buatan Sari menjadi menu khusus keluarga Wijaya. Arya tersenyum setiap mencicipinya, bukan karena masa lalu, melainkan keluarga yang akhirnya kembali utuh.