Logo

052TID-Suamiku Membuang Masakanku ke Lantai Demi Selingkuhannya… Lalu Aku Membalas dengan Satu Ancaman

Article image

Ayu tidak menjawab pertanyaan Dimas. Tangannya tetap menggenggam ponsel, sementara Naya berdiri rapat di sisinya. Beberapa detik kemudian, Ayu menekan satu tombol dan meletakkan ponsel di atas meja dengan layar menghadap ke bawah. Wajah Dimas langsung pucat. “Ayu, sebenarnya apa yang kamu lakukan?” tanyanya dengan suara yang tak lagi terdengar angkuh. Ayu menatap makanan yang berserakan di lantai, lalu berkata pelan, “Aku hanya memastikan bahwa mulai hari ini, semua orang tahu siapa yang sebenarnya membangun hidup mewah yang selama ini kamu banggakan.” Vanessa menelan ludah dan mencoba tersenyum. “Jangan menakut-nakuti kami dengan omong kosong.” Ayu mengangkat wajah. “Kalau begitu, tunggu lima menit.”

Belum sempat Dimas menjawab, ponselnya berdering berkali-kali. Satu panggilan berubah menjadi tiga, lalu lima. Pesan masuk memenuhi layar. Dimas membaca salah satunya dan wajahnya semakin tegang. “Kenapa dewan direksi mengadakan rapat darurat?” gumamnya. Ayu berdiri diam. “Karena perusahaan itu tidak pernah sepenuhnya milikmu.” Dimas menatapnya tajam. “Apa maksudmu?” Ayu akhirnya mengungkap rahasia yang selama bertahun-tahun ia simpan. Modal awal perusahaan, aset rumah, dan sebagian besar saham pengendali berasal dari warisan keluarga Ayu yang selama ini dipercayakan kepadanya. “Kamu pikir aku hanya perempuan yang memasak di dapur?” kata Ayu. “Aku memilih berada di sini karena aku mencintai keluarga kita. Bukan karena aku tidak punya kekuatan.”

Vanessa mulai gelisah. Ia meraih lengan Dimas. “Kita pergi saja. Dia hanya sedang marah.” Namun Dimas tidak bergerak. Ia terus membaca pesan di ponselnya. Akun perusahaan dibekukan sementara untuk audit internal, hak aksesnya dicabut, dan rapat pemegang saham telah menerima bukti transfer mencurigakan yang selama berbulan-bulan ia lakukan untuk membiayai kehidupan Vanessa. “Kamu memata-mataiku?” bentaknya. Ayu menggeleng. “Tidak. Kamu sendiri yang meninggalkan jejak.” Vanessa mendadak melepaskan tangannya dari Dimas. “Transfer apa?” Dimas menoleh gugup. Ayu tersenyum tipis. “Ternyata dia juga tidak menceritakan semuanya kepadamu, Vanessa.”

Ketegangan berubah menjadi kepanikan. Ayu membuka ponselnya dan menunjukkan satu bukti, hanya kepada Dimas dan Vanessa. Dimas membeku. Vanessa membaca sekilas, lalu menatap Dimas dengan wajah marah. “Kamu bilang apartemen dan uang itu milikmu sendiri!” Dimas mencoba menenangkan keadaan. “Vanessa, dengarkan aku—” Tetapi Vanessa langsung mundur. “Jadi selama ini kamu mengambil uang perusahaan untuk membiayaiku?” Ayu menyela dengan tenang, “Bukan hanya perusahaan. Sebagian uang itu berasal dari rekening pendidikan Naya.” Dimas terdiam. Untuk pertama kalinya, Naya mengangkat wajah dan menatap ayahnya dengan mata penuh air mata. Ayu kemudian berkata, “Kamu boleh menghina aku, Dimas. Tapi saat kamu mengambil masa depan anakmu sendiri, semuanya selesai.”

Dimas mulai memohon. “Ayu, kita bisa membicarakan ini. Aku khilaf. Jangan hancurkan keluarga kita.” Ayu menatapnya lama. “Keluarga ini tidak hancur hari ini. Kamu menghancurkannya sedikit demi sedikit setiap kali pulang terlambat, setiap kali berbohong, dan setiap kali membuatku merasa tidak berharga.” Dimas mendekat satu langkah. “Aku masih suamimu.” Ayu menjawab tanpa meninggikan suara, “Dan aku masih ibu dari anakmu. Karena itulah aku tidak akan membiarkan Naya tumbuh mengira bahwa seorang perempuan harus menerima penghinaan demi mempertahankan pernikahan.” Naya memeluk ibunya semakin erat. “Mama…” bisiknya. Ayu mencium kepala putrinya. “Mama di sini.”

Vanessa akhirnya mengambil tasnya. Semua kesombongannya telah hilang. “Aku tidak mau terlibat dalam masalah ini,” katanya kepada Dimas. Dimas menatapnya tak percaya. “Setelah semua yang kuberikan kepadamu, kamu mau pergi?” Vanessa tertawa pahit. “Semua yang kamu berikan ternyata bukan milikmu.” Kalimat itu menghantam Dimas lebih keras daripada semua ancaman Ayu. Vanessa berjalan menuju pintu, tetapi sebelum pergi ia menoleh kepada Ayu. “Aku tidak tahu soal uang Naya.” Ayu menjawab dingin, “Kamu tahu dia punya istri dan anak. Itu seharusnya sudah cukup.” Vanessa tak mampu menjawab. Pintu tertutup, meninggalkan Dimas seorang diri menghadapi perempuan yang selama ini ia anggap lemah.

Beberapa minggu kemudian, Dimas resmi kehilangan posisi direktur utama setelah audit membuktikan penyalahgunaan dana dan pelanggaran kepercayaan pemegang saham. Ayu tidak mengambil semua hartanya untuk membalas dendam; ia hanya mengambil kembali apa yang menjadi miliknya dan menjamin masa depan Naya. Pada suatu sore, Ayu kembali memasak di dapur yang sama. Kali ini tidak ada ketakutan di wajahnya. Naya duduk di meja sambil tersenyum. “Mama, apakah Mama masih sedih?” Ayu meletakkan sepiring nasi hangat di depannya. “Sedih itu tidak selalu hilang cepat, Sayang. Tapi harga diri bisa kita pilih untuk tidak pernah hilang lagi.” Naya memeluknya. Ayu memandang sinar matahari yang masuk melalui jendela dan tersenyum kecil. Di rumah yang dulu menjadi tempat penghinaan, ia akhirnya merasa bebas. “Mulai sekarang,” bisiknya, “kita membangun hidup kita sendiri.”

Comments (0)

Loading comments...

N01INDO Dia Mengusir Ibu Mertuanya di Tengah Hujan, Tapi Satu Telepon Mengubah Segalanya
Arga meninggalkan bandara tanpa berpikir dua kali. Sepanjang perjalanan pulang, suara tangis Alya terus terngiang, sementara bayangan ibunya sendirian di tengah hujan membakar dadanya. Ketika mobil berhenti di depan rumah, Arga melihat koper terbuka, pakaian berserakan, dan Ibu Sari menggigil di teras. Wajahnya langsung berubah pucat karena amarah. “Ibu!” teriak Arga sambil berlari menerobos hujan. Ia berlutut, memeluk tubuh ibunya yang basah, lalu melepas jasnya untuk menyelimuti bahu perempuan tua itu. Ibu Sari menatap putranya dengan mata sembap. “Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak ingin membuat masalah.” Arga menggeleng keras sambil menahan air matanya. “Bukan Ibu yang membuat masalah,” jawab Arga. “Orang yang memperlakukan Ibu seperti ini yang akan menjelaskan semuanya kepadaku malam ini juga.” Alya berlari keluar dari balik pintu, lalu memeluk neneknya sambil menangis. “Nenek jangan pergi lagi.” Ibu Sari mengusap rambut cucunya dengan tangan gemetar. Nadira akhirnya muncul di ambang pintu. Wajah angkuhnya berubah tegang ketika melihat Arga berdiri di bawah hujan, menatapnya tanpa sedikit pun kehangatan. “Arga, dengarkan aku dulu,” katanya cepat. “Ibumu selalu mencampuri urusan kita.” Arga menatap koper berserakan sebelum kembali menatap Nadira dengan rahang mengeras. “Jadi karena itu kamu melempar seorang perempuan tua ke hujan?” tanya Arga. “Karena itu kamu merasa berhak mengatakan bahwa ibuku hanyalah beban?” Nadira terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki jawaban. Alya kemudian berkata pelan, “Ayah, aku melihat semuanya. Nenek bahkan sudah memohon kepadanya.” Kata-kata Alya menghancurkan alasan terakhir Nadira. Arga mengangkat foto keluarga yang basah dari genangan, membersihkannya perlahan, lalu menyerahkannya kembali kepada ibunya. “Foto ini Ibu simpan puluhan tahun,” bisik Ibu Sari. Arga menelan rasa bersalah, menyadari perempuan yang membesarkannya hampir kehilangan segalanya di depan rumahnya sendiri. Arga kemudian berdiri menghadap Nadira. “Mulai malam ini, Ibu tinggal di sini dengan kehormatan penuh. Tidak seorang pun boleh mengusirnya lagi, termasuk kamu.” Nadira membeku. “Maksudmu apa?” Arga menunjuk pintu yang tadi digunakannya untuk mengusir Ibu Sari. “Sekarang giliranmu memilih: meminta maaf sungguh-sungguh atau pergi.” Nadira mencoba mempertahankan harga dirinya, tetapi tatapan Alya membuatnya goyah. “Aku hanya marah.” Arga menjawab dingin, “Marah tidak pernah memberi seseorang hak untuk menjadi kejam.” Akhirnya Nadira menunduk di depan Ibu Sari. Suaranya pecah. “Maafkan saya.” Namun Ibu Sari hanya menjawab tenang, “Maaf tidak menghapus luka, tetapi perubahan bisa membuktikannya.” Arga meminta Nadira meninggalkan rumah untuk sementara. Bukan dengan teriakan atau kekerasan, melainkan keputusan tegas bahwa rumah itu tidak akan lagi menjadi tempat penghinaan. Malam itu, Arga sendiri mengeringkan koper ibunya, melipat pakaian yang basah, dan meletakkan foto keluarga di meja. Alya duduk di samping neneknya sambil menggenggam tangannya. Beberapa minggu kemudian, Nadira kembali bukan untuk menuntut, melainkan meminta kesempatan memperbaiki kesalahannya. Ibu Sari tidak langsung memaafkan, tetapi memintanya membuktikan perubahan lewat tindakan. Sejak malam hujan itu, Arga tak pernah lagi membiarkan ibunya merasa menjadi beban. Dan Alya belajar satu hal penting: keluarga sejati melindungi, bukan mengusir.