040TID-SEMUA MENGIRA ALYA SUDAH MENINGGAL… SAMPAI BOCAH ITU MEMUKUL PETINYA DUA KALI!

Ratih menjerit begitu melihat mata Alya bergerak dari balik celah peti. Kepanikan langsung pecah di seluruh kapel. Beberapa tamu mundur, sementara dua petugas keamanan berlari mendekati Surya yang masih mengarahkan pistol ke Raka. Namun Raka berdiri membeku di samping peti, wajahnya basah oleh air mata. “Dia hidup! Aku sudah bilang dia masih hidup!” teriaknya. Surya semakin pucat dan membentak, “Jangan percaya anak itu! Dia tidak tahu apa-apa!” Kalimat itu justru membuat Ratih menatapnya dengan curiga. Dengan suara gemetar tetapi tegas, ia berkata, “Kalau Alya benar-benar sudah meninggal, kenapa kau begitu takut petinya dibuka, Surya?” Surya tidak mampu menjawab. Dalam beberapa detik, dua petugas keamanan berhasil merebut pistol dari tangannya dan menahannya menjauh dari Raka. Para pelayat yang tadi diam kini mulai berbisik keras.
Ratih segera memerintahkan staf membuka peti. “Buka sekarang! Jangan tunggu sedetik pun!” Kait-kait peti dilepas dengan tangan gemetar. Ketika tutup putih itu akhirnya terangkat, seluruh ruangan terdiam. Alya terbaring di atas satin krem, hidup, menangis, dengan mulut masih tertutup lakban abu-abu. Ratih langsung merobek lakban itu dan memeluknya. Alya menarik napas dalam-dalam seperti seseorang yang baru kembali dari ambang kematian. “Tante… aku pikir tidak akan ada yang menemukan aku,” bisiknya. Ratih menangis keras. “Siapa yang melakukan ini padamu?” Alya perlahan mengangkat tangan dan menunjuk ke arah Surya. Wajah pria itu seketika kehilangan seluruh keberaniannya. “Dia,” kata Alya lirih. “Surya yang membuat semua orang percaya aku sudah mati.” Para tamu tersentak, sementara Surya berteriak, “Dia berbohong! Dia sedang kebingungan!”
Alya kemudian mengungkap alasan di balik semuanya. Beberapa hari sebelumnya, ia menemukan dokumen yang menunjukkan Surya telah memindahkan uang perusahaan keluarga ke sejumlah rekening tersembunyi. Lebih buruk lagi, Surya ternyata telah menyiapkan surat pengalihan saham yang hanya bisa berlaku setelah Alya dinyatakan meninggal. “Aku bilang akan menyerahkan semua bukti kepada dewan direksi,” ujar Alya sambil menatapnya. “Malam itu kau datang ke rumahku. Setelah aku minum teh yang kau berikan, aku tidak ingat apa-apa lagi.” Surya berusaha melepaskan diri dari petugas keamanan. “Kau tidak punya bukti! Tidak ada satu pun!” katanya. Raka tiba-tiba membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah ponsel lama. “Ada,” jawabnya. “Aku punya rekamannya.” Semua mata beralih kepadanya. Surya langsung berhenti meronta.
Raka akhirnya menjelaskan mengapa sejak awal ia begitu yakin Alya masih hidup. Malam sebelum pemakaman, ia datang ke rumah duka karena ingin meletakkan gambar buatannya untuk Alya. Saat melewati ruang penyimpanan, ia mendengar suara benturan pelan dari dalam peti—tiga ketukan, berhenti, lalu tiga ketukan lagi. “Aku memanggil namanya, lalu dari dalam terdengar ketukan lagi,” katanya sambil menangis. Ia kemudian bersembunyi ketika Surya datang bersama dua orang pria. Dari balik pintu, Raka menyalakan perekam ponselnya. Suara Surya terdengar jelas: “Besok peti ini harus langsung dikuburkan. Jangan biarkan siapa pun membukanya.” Kapel mendadak sunyi. Ratih menutup mulutnya karena ngeri. Surya berteriak putus asa, “Itu rekaman palsu!” Namun salah seorang pengacaranya sendiri mundur beberapa langkah dan berkata dingin, “Saya mengenal suara Anda, Pak Surya. Itu suara Anda.”
Sirene polisi terdengar dari luar setelah petugas keamanan menghubungi pihak berwenang. Surya yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai pengusaha tak tersentuh kini berdiri dengan tangan diborgol di depan keluarga dan koleganya sendiri. Saat polisi hendak membawanya pergi, ia menatap Alya dengan penuh kebencian. “Kau pikir kau sudah menang? Perusahaan itu akan hancur tanpaku!” Alya, masih lemah tetapi kini duduk tegak, menjawab tanpa gentar, “Lebih baik kehilangan perusahaan daripada mempertahankannya dengan kebohongan dan nyawa orang lain.” Surya terdiam. Ratih menambahkan, “Kekuasaanmu berakhir hari ini.” Para tamu yang sebelumnya takut kepadanya kini justru membuka jalan agar polisi membawanya keluar. Tidak ada lagi yang menundukkan kepala. Tidak ada lagi yang membelanya.
Beberapa minggu kemudian, Alya berdiri di ruang rapat utama perusahaan keluarga. Penyelidikan menemukan dokumen keuangan, rekaman kamera, serta transaksi yang menguatkan kesaksiannya. Orang-orang yang membantu Surya juga ditangkap, sementara seluruh aset yang diselewengkan dibekukan. Tetapi sebelum memulai rapat pertamanya sebagai pemimpin baru perusahaan, Alya meminta Raka masuk. Anak itu masih mengenakan pakaian sederhana dan tampak canggung di antara para eksekutif. Alya berjalan menghampirinya lalu berlutut agar sejajar dengannya. “Semua orang dewasa di ruangan itu takut membuka peti itu, tapi kamu tidak,” katanya. Raka menunduk. “Aku cuma takut Kak Alya tidak bisa bernapas.” Alya memeluknya erat sambil menangis. “Karena keberanianmu, aku masih berada di sini. Mulai sekarang, kamu tidak perlu menghadapi apa pun sendirian lagi.”
Beberapa bulan setelah kejadian itu, Alya kembali ke kapel yang sama bersama Raka dan Ratih. Tidak ada peti, tidak ada pelayat, dan tidak ada ketakutan—hanya cahaya pagi yang masuk melalui jendela tinggi dan bunga-bunga putih yang memenuhi ruangan. Alya meletakkan palu kecil milik Raka di dalam sebuah kotak kaca sebagai pengingat tentang hari ketika seorang anak berani menentang puluhan orang dewasa demi menyelamatkan satu nyawa. Ratih tersenyum dan berkata, “Aneh ya… benda yang hampir dianggap sebagai penghancur justru menjadi alat penyelamat.” Raka menatap Alya dan bertanya pelan, “Kalau waktu itu aku menyerah, apa yang akan terjadi?” Alya menggenggam tangannya. “Tapi kamu tidak menyerah. Itu yang penting.” Ia lalu menatap cahaya di depan altar dan tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Surya mencoba mengubur kebenaran bersamaku. Tapi kebenaran selalu menemukan jalan untuk keluar. Dan kali ini… ia keluar melalui dua pukulan seorang anak yang tidak mau berhenti percaya.”
Comments (0)
Loading comments...

















