Logo

04-Dia Menghina Raka di Toko Jam Mewah… Lalu Satu Telepon Membuat Senyumnya Hilang

Article image

Dion masih menatap Raka ketika pintu lift pribadi di ujung ruangan terbuka. Seorang pria paruh baya turun tergesa, lalu berhenti mendadak saat melihat Raka.

Wajah pria itu langsung berubah pucat. Ia membungkuk hormat dan berkata, “Pak Raka, maaf membuat Anda menunggu. Saya datang secepat mungkin setelah menerima telepon.”

Senyum Dion lenyap seketika. Nadira, Keisha, dan Tara saling berpandangan, sementara Raka tetap tenang. Ia hanya bertanya, “Dia siapa?” sambil menunjuk Dion.

Pria paruh baya itu menelan ludah. “Dia pelanggan VIP kami, Pak. Tapi saya tidak tahu kalau dia berani memperlakukan Anda seperti ini malam ini.”

Dion mencoba tertawa kecil, namun suaranya bergetar. “Tunggu… sebenarnya siapa lo?” Raka menatapnya tanpa emosi, membuat suasana ruangan terasa semakin berat.

Raka tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke etalase jam yang tadi dihina Dion. “Jam itu masih tersedia?” tanyanya pelan kepada pria paruh baya tersebut.

“Masih, Pak. Bahkan seluruh koleksi malam ini disiapkan khusus untuk Anda,” jawab pria itu. Tiga perempuan di belakang Dion langsung kehilangan warna wajah mereka.

Dion mundur setengah langkah. “Khusus buat dia?” bisiknya. Manajer itu mengangguk. “Pak Raka adalah pemilik grup investasi yang baru mengakuisisi jaringan butik ini.”

Nadira langsung menutup mulutnya. Keisha menunduk malu. Tara mematung. Mereka baru sadar pria yang mereka hina sebagai orang miskin justru pemilik tempat tersebut.

Dion berusaha menyelamatkan harga dirinya. “Gue cuma bercanda, Rak. Jangan terlalu serius.” Raka tersenyum tipis. “Dua kali nabrak orang juga bercanda?”

Pertanyaan itu membuat Dion bungkam. Raka melanjutkan, “Menghina pakaian seseorang mungkin menyenangkan buat lo. Tapi malam ini, lo belajar harga sebuah kesombongan.”

Dion menatap manajer itu dengan panik. “Gue pelanggan lama di sini.” Namun pria itu menjawab tegas, “Mulai malam ini, status VIP Anda dibatalkan.”

Nadira spontan menjauh dari Dion. “Kamu bilang semua orang di sini kenal kamu.” Dion menatapnya marah, tetapi tak satu pun dari mereka berani membelanya.

Raka mengambil jam dari etalase setelah manajer membukanya. Ia memandang jam itu sebentar, lalu berkata, “Bungkus. Bukan untuk saya. Berikan kepada petugas kebersihan tertua.”

Semua orang terdiam. Raka menambahkan, “Orang yang bekerja jujur lebih pantas menikmati sesuatu yang indah daripada orang yang merasa uang membuatnya lebih tinggi.”

Dion menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya malam itu, kesombongannya benar-benar runtuh. “Raka… gue minta maaf,” katanya lirih, tak lagi berani menatap mata.

Raka menjawab tenang, “Minta maaf bukan ke gue dulu. Minta maaf pada setiap orang yang pernah lo rendahkan hanya karena penampilan atau isi dompet mereka.”

Dion tidak mampu membalas. Nadira, Keisha, dan Tara ikut menunduk. Tawa mereka sebelumnya kini terasa memalukan, menggantung berat di dalam salon mewah itu.

Sebelum pergi, Raka berhenti di samping Dion. “Ingat malam ini. Orang paling berbahaya bukan yang terlihat kaya, tapi yang tetap tenang saat dipermalukan.”

Raka berjalan menuju lift tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, Dion hanya berdiri kaku. Malam itu, bukan uang Raka yang menang, melainkan harga diri yang tak bisa dibeli.

Comments (0)

Loading comments...

N06INDO  Dimas Menghantam Peti Mati Dua Kali… Lalu Terdengar Suara dari Dalam
  Dimas menatap mata Anindya dari celah peti, lalu berteriak agar semua orang melihat. Bagas mengangkat pistol, tetapi tangannya gemetar hebat ketika para pelayat mulai mendekat. Maya segera berdiri di depan Dimas. “Turunkan senjatamu, Bagas!” katanya tegas. Untuk pertama kalinya, pria berkuasa itu terlihat kehilangan kendali di hadapan seluruh keluarganya. Dua petugas keamanan saling berpandangan, ragu mengikuti Bagas. Seorang paman tua maju dan berkata, “Buka petinya sekarang. Kalau Anindya hidup, kita semua berhak mengetahui kebenarannya.” Bagas mencoba menghentikan mereka, tetapi Maya merebut kesempatan. Ia memerintahkan staf membuka pengunci peti, sementara Dimas menangis sambil terus memanggil nama Anindya dengan putus asa. Ketika tutup peti akhirnya terangkat, ruangan dipenuhi jeritan. Anindya terbaring hidup, mulut tertutup lakban, tangannya terikat longgar di bawah kain krem yang menutupi tubuhnya. Maya segera melepaskan lakban itu. Anindya menarik napas panjang, lalu berbisik serak, “Jangan biarkan Bagas pergi.” Semua mata langsung beralih kepada pria yang mulai mundur perlahan. Bagas menggeleng keras. “Dia bingung! Jangan percaya!” Namun Anindya menatapnya tanpa berkedip. “Aku mendengar suaramu malam itu. Kau sendiri yang memerintahkan mereka memasukkanku ke sini.” Ruangan mendadak sunyi. Bagas mencoba menyangkal, tetapi seorang pegawai keluarga tiba-tiba maju membawa ponsel. Ia mengaku diam-diam merekam percakapan Bagas dengan dua orang suruhannya semalam. Rekaman diputar di depan semua orang. Suara Bagas terdengar jelas membicarakan dokumen warisan dan rencana membuat kematian Anindya terlihat alami sebelum surat wasiat keluarga diumumkan. Maya menutup mulutnya, terpukul. Ternyata Anindya adalah pewaris utama perusahaan keluarga, sedangkan Bagas akan kehilangan kendali bisnis begitu perempuan muda itu resmi menerima warisan ayahnya. Bagas kembali mengangkat pistol, tetapi petugas keamanan langsung menerjang dari samping dan menjatuhkan senjatanya. Ia tersungkur di lantai marmer, sementara para pelayat mundur dengan wajah ketakutan. “Jangan sentuh anak itu!” teriak Anindya. Meski tubuhnya lemah, suaranya membuat semua orang berhenti. Dimas berlari mendekat, lalu memeluk tangannya sambil menangis lega. Maya bertanya bagaimana Dimas mengetahui Anindya masih hidup. Bocah itu mengeluarkan jam tangan kecil milik Anindya yang ditemukannya pagi tadi di belakang paviliun keluarga. Dimas menjelaskan jam itu memiliki fitur rekaman suara. Sebelum ditangkap, Anindya sempat menekan tombol darurat dan meninggalkan pesan pendek: “Dimas, jangan biarkan mereka menguburku.” Anindya menangis mendengarnya. Ia tidak tahu apakah pesan itu berhasil terkirim. Dimas ternyata menemukan jam tersebut setelah mendengar bunyi alarm kecil dari semak dekat gudang belakang. Polisi tiba setelah Maya menghubungi mereka. Dua orang suruhan Bagas ditangkap di gerbang kompleks, dan salah satunya langsung mengaku membantu memindahkan Anindya setelah menerima bayaran besar. Bagas masih menyangkal sampai polisi menunjukkan rekaman keamanan gudang. Wajahnya akhirnya jatuh. Semua kebohongan, ancaman, dan rencana perebutan warisan runtuh dalam hitungan menit di depan keluarganya sendiri. Saat diborgol, Bagas menatap Anindya penuh kebencian. Anindya menjawab tenang, “Kau hampir menguburku hidup-hidup. Sekarang kau akan hidup cukup lama untuk mempertanggungjawabkan semuanya.” Beberapa minggu kemudian, Anindya kembali ke rumah keluarga dalam keadaan pulih. Ia mengambil alih perusahaan, memecat orang-orang Bagas, dan memastikan Maya serta Dimas hidup aman di sisinya. Di paviliun yang dahulu menjadi tempat penguburannya, Anindya memeluk Dimas erat. “Kau menyelamatkan hidupku.” Dimas tersenyum sambil menangis. “Aku hanya percaya Kakak masih menungguku.”