039TID-Dia Memaksa Laras Membersihkan Toilet VIP… Namun Tak Menyangka Siapa yang Akan Datang Mencarinya

Bagian Akhir
Arga menatap Sari lama sekali, seolah seluruh suara di ballroom telah lenyap. Foto tua itu bergetar di tangannya, sementara Nadine berdiri beberapa langkah di belakang dengan wajah pucat. Sari akhirnya mengangguk pelan. “Ya… aku yang menemanimu setiap malam saat dokter bilang peluangmu sadar sangat kecil.” Arga menarik napas tajam. Potongan ingatan yang selama ini seperti kabut mulai datang: tangan hangat, suara perempuan yang membacakan doa, aroma sabun sederhana, dan seseorang yang selalu berkata ia tidak boleh menyerah. “Kenapa aku tidak pernah tahu namamu?” tanyanya serak. Sari menatapnya dengan mata basah. “Karena ketika kamu sadar… aku sudah dipaksa pergi.”
Nadine langsung menyela, suaranya pecah. “Jangan dengarkan dia, Arga! Dia cuma pekerja hotel yang ingin menghancurkan pernikahan kita!” Namun kali ini Arga tidak menoleh kepadanya. Ia justru membalik foto itu, memandangi sudut-sudutnya seakan berharap menemukan jawaban. Sari merogoh saku seragamnya sekali lagi dan mengeluarkan sebuah gelang rumah sakit tua yang selama bertahun-tahun ia simpan. “Aku tidak datang untuk merebutmu,” katanya. “Aku datang karena aku tidak sanggup melihat hidupmu dibangun di atas kebohongan.” Arga melihat gelang itu, lalu wajah Nadine. “Kalau dia berbohong, kenapa kamu ketakutan sejak melihat foto ini?” Nadine membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
Seorang perempuan tua dari antara tamu tiba-tiba melangkah maju. Ia adalah mantan kepala perawat yang pernah bekerja di rumah sakit tempat Arga dirawat. Tatapannya berpindah dari Sari ke Nadine. “Saya ingat perempuan ini,” katanya sambil menunjuk Sari. “Dia tidur di kursi lorong hampir setiap malam. Dia menjual perhiasannya untuk membayar obat tambahan ketika keluarga Tuan Arga belum bisa dihubungi.” Ballroom langsung dipenuhi desahan tertahan. Nadine mundur satu langkah. “Itu tidak membuktikan apa-apa!” bentaknya. Perawat itu menggeleng. “Tapi saya juga ingat kamu datang setelah Arga sadar… dan mengaku bahwa semua yang dilakukan Sari adalah pengorbananmu.” Arga akhirnya menatap Nadine. “Jadi sejak awal… kamu mengambil kisah hidup orang lain?”
Air mata Nadine jatuh, tetapi wajahnya masih berusaha mempertahankan harga diri. “Aku mencintaimu, Arga! Aku takut kehilanganmu sebelum sempat memilikimu!” teriaknya. Arga tertawa kecil, pahit. “Cinta tidak membutuhkan identitas palsu.” Nadine menatap Sari dengan marah dan putus asa. “Kalau kamu benar-benar mencintainya, kenapa kamu pergi?” Sari mengepalkan tangan agar tidak gemetar. “Karena ayahmu datang ke rumah sakit dan mengatakan keluarga Arga tidak akan pernah menerima perempuan seperti aku. Dia memberiku uang. Aku menolaknya. Tapi dia mengancam akan memindahkan ibuku dari rumah sakit tempat beliau dirawat.” Arga membeku. “Ayahku melakukan itu?” Sari mengangguk. “Aku pergi bukan karena berhenti mencintaimu. Aku pergi karena takut kehilangan satu-satunya keluargaku.”
Arga menunduk, menahan tangis. Kini semua kepingan itu tersusun: suara yang ia ingat bukan suara Nadine, doa yang ia hafal bukan doa Nadine, bahkan kalimat yang selama bertahun-tahun ia kira pernah diucapkan tunangannya ternyata milik Sari. Ia mendekati Nadine, tetapi tetap menjaga jarak. “Katakan satu hal saja dengan jujur. Saat aku bertanya siapa yang menjagaku, apakah kamu mengatakan itu dirimu?” Nadine terisak. “Aku… hanya tidak menyangkalnya.” Arga menggeleng pelan. “Diam saat kebohongan menguntungkanmu tetaplah kebohongan.” Nadine memohon, “Jangan hancurkan semuanya karena masa lalu.” Arga menjawab tenang, “Bukan masa lalu yang menghancurkan ini. Kebohonganmu yang baru saja melakukannya.”
Di depan seluruh tamu, Arga melepaskan cincin dari jarinya dan meletakkannya di meja terdekat. Nadine menatap benda itu seperti dunianya runtuh. “Arga, jangan lakukan ini… kita tinggal beberapa menit lagi menjadi suami istri.” Arga menatapnya tanpa kebencian, hanya dengan kekecewaan yang dalam. “Justru karena itu aku harus berhenti sekarang.” Ia lalu berbalik kepada para tamu. “Pernikahan ini dibatalkan. Tidak ada pesta yang lebih penting daripada kebenaran.” Nadine menangis keras. “Lalu bagaimana denganku?” Arga menjawab, “Kamu akan hidup dengan kesempatan untuk memperbaiki dirimu, tapi bukan dengan menjadikan aku hadiah atas kebohonganmu.” Untuk pertama kalinya, Nadine tidak membantah. Ia hanya menundukkan kepala, sadar bahwa tidak ada lagi cerita yang bisa ia curi untuk menyelamatkan dirinya.
Sari segera hendak pergi, tetapi Arga memanggilnya. “Sari, tunggu.” Ia berhenti tanpa berbalik. Arga mendekat perlahan dan mengembalikan foto tua itu ke tangannya. “Aku tidak akan meminta kita kembali ke sesuatu yang bahkan belum sempat kita mulai. Tapi kalau kamu mengizinkan… aku ingin mengenal perempuan yang dulu menyelamatkan hidupku, kali ini tanpa kebohongan di antara kita.” Sari menatap foto itu, lalu menatap Arga. Air matanya jatuh, namun senyum kecil akhirnya muncul. “Aku tidak butuh kamu membalas pengorbananku,” katanya. “Aku hanya ingin kamu tahu siapa yang benar-benar ada di sana.” Arga mengangguk. “Sekarang aku tahu. Dan kali ini, aku akan mengingatnya.” Di tengah ballroom yang sunyi, Sari mengulurkan tangannya. Arga menggenggamnya dengan hati-hati, bukan sebagai janji cinta, melainkan sebagai awal yang jujur.
Comments (0)
Loading comments...
















