037TID-Keisha Menyiramkan Anggur ke Kepala Wanita Tua Itu… Beberapa Detik Kemudian, Wajahnya Langsung Pucat

Keisha masih berdiri membeku ketika pecahan gelas berserakan di lantai marmer. Tatapan puluhan tamu kini tidak lagi memandang Ibu Sari sebagai seorang petugas kebersihan, melainkan sebagai seorang ibu yang baru saja dipermalukan di hadapan putranya sendiri. Keisha mencoba mendekati Arga, tetapi Arga mundur setengah langkah. “Arga, dengarkan aku… kalau aku tahu dia ibumu, aku tidak akan pernah melakukan itu,” katanya terbata-bata. Kalimat itu justru membuat wajah Arga semakin dingin. “Jadi kalau dia bukan ibuku, perlakuanmu tadi pantas?” tanyanya pelan. Ruangan langsung senyap. Keisha membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Untuk pertama kalinya malam itu, semua orang memahami bahwa masalah sebenarnya bukanlah siapa Ibu Sari, melainkan siapa Keisha ketika berhadapan dengan seseorang yang dianggapnya tidak memiliki kekuasaan.
Ibu Sari segera meraih lengan putranya. Meskipun rambut dan seragamnya masih basah oleh anggur merah, suaranya tetap lembut. “Arga, jangan rusak malam pertunanganmu karena Ibu. Ibu sudah biasa menghadapi orang yang memandang rendah pekerjaan ini.” Arga menoleh, dan air matanya akhirnya jatuh. Ia menggenggam kedua tangan ibunya yang kasar karena bertahun-tahun bekerja. “Justru karena Ibu terbiasa, aku merasa gagal sebagai anak,” jawabnya. “Aku sibuk membangun perusahaan, membeli rumah, mencari kehormatan… tapi aku bahkan tidak tahu ibuku bekerja diam-diam sampai berlutut membersihkan lantai di pestaku sendiri.” Ibu Sari menggeleng perlahan. “Kamu tidak gagal. Ibu yang memilih bekerja. Yang memalukan bukan pekerjaan Ibu, Nak. Yang memalukan adalah hati yang merasa dirinya lebih tinggi hanya karena memiliki uang.”
Kata-kata itu menghantam Keisha lebih keras daripada bentakan apa pun. Ia menatap gaun mahalnya, berlian di telinganya, lalu cincin pertunangan yang berkilau di tangannya. Dengan langkah gemetar, ia mendekati Ibu Sari. “Ibu Sari… saya minta maaf. Saya benar-benar kehilangan kendali,” bisiknya sambil menangis. Ibu Sari menatapnya lama sebelum menjawab, “Maaf bisa diberikan, Nak. Tetapi penghinaan meninggalkan bekas, terutama ketika dilakukan tanpa rasa bersalah sebelum mengetahui siapa korbannya.” Keisha langsung terisak. “Saya akan memperbaiki semuanya.” Ibu Sari tersenyum tipis, tetapi matanya tetap sedih. “Kamu tidak perlu memperbaiki gaun Ibu atau mengganti seragam Ibu. Perbaikilah caramu melihat manusia.” Beberapa tamu menundukkan kepala karena malu; sebagian dari mereka sebelumnya hanya berdiri dan menyaksikan tanpa berbuat apa-apa.
Arga kemudian berjalan menuju tengah ruangan dan menatap satu per satu para tamu yang masih terdiam. “Malam ini kalian datang untuk menyaksikan pertunanganku,” katanya tegas. “Tapi kalian justru menyaksikan sesuatu yang jauh lebih penting.” Ia menunjuk pecahan gelas dan noda anggur di lantai. “Seorang perempuan berusia hampir tujuh puluh tahun dipermalukan di depan kalian, dan hampir tidak seorang pun bergerak menolongnya.” Seorang pria tua di antara tamu akhirnya berkata lirih, “Arga… kami salah. Kami seharusnya menghentikannya.” Arga mengangguk. “Ya. Karena kekejaman tidak selalu dilakukan oleh orang yang menuangkan anggur. Kadang-kadang kekejaman juga lahir dari mereka yang melihat lalu memilih diam.” Suasana pesta yang sebelumnya megah kini terasa seperti ruang pengadilan tanpa hakim.
Keisha tiba-tiba melepaskan cincin pertunangannya. Tangannya gemetar ketika ia mengulurkannya kepada Arga. “Kalau kamu ingin mengakhiri semuanya, lakukanlah. Tapi percayalah, aku mencintaimu.” Arga tidak langsung mengambil cincin itu. Ia menatap Keisha dengan mata merah dan berkata, “Aku tidak pernah meragukan bahwa kamu mencintaiku. Yang sekarang aku ragukan adalah apakah aku pernah benar-benar mengenalmu.” Keisha menangis semakin keras. “Beri aku satu kesempatan.” Arga menggeleng. “Kesempatan untuk berubah mungkin masih ada. Tetapi bukan sebagai istriku.” Keisha langsung terdiam seolah napasnya berhenti. Arga mengambil cincin itu dari tangannya dan meletakkannya perlahan di atas meja. “Pertunangan ini selesai. Bukan karena kamu menghina ibuku. Tetapi karena malam ini aku melihat bagaimana kamu memperlakukan seseorang ketika kamu pikir dia tidak berarti apa-apa.”
Keisha jatuh terduduk di kursi terdekat, menutupi wajahnya sambil menangis. Namun Ibu Sari justru memandang Arga dengan cemas. “Nak, jangan mengambil keputusan karena marah.” Arga berlutut di depannya dan berkata, “Aku tidak sedang marah, Bu. Aku sedang sadar.” Ia lalu memeluk ibunya erat. “Mulai malam ini, jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku lagi. Kalau Ibu ingin bekerja, bekerjalah. Tapi bukan karena takut menjadi beban.” Ibu Sari menangis di bahunya. “Ibu hanya ingin kamu bangga.” Arga tersenyum sambil mengusap air mata ibunya. “Aku sudah bangga sejak dulu. Aku hanya terlalu sibuk sampai lupa mengatakannya.” Beberapa tamu mulai menangis, sementara seorang perempuan yang sebelumnya hanya menonton mendekat dan berkata, “Ibu Sari, maafkan kami karena membiarkan semua itu terjadi.”
Arga kemudian menggandeng tangan ibunya menuju pintu ballroom. Sebelum pergi, Ibu Sari berhenti dan menoleh kepada Keisha yang masih menangis sendirian di tengah kemewahan yang tiba-tiba terasa kosong. “Keisha,” panggilnya lembut. Keisha mengangkat wajah. “Saya menyesal, Bu.” Ibu Sari menjawab, “Kalau penyesalanmu tulus, jangan gunakan malam ini hanya untuk menangisi Arga. Gunakanlah untuk menjadi manusia yang berbeda.” Arga memeluk bahu ibunya dan mereka berjalan keluar bersama. Tepat sebelum pintu tertutup, Keisha menatap cincin yang tertinggal di meja dan berbisik, “Aku kehilangan semuanya karena kesombonganku sendiri.” Dari sisi pintu, Arga mendengarnya dan berhenti sesaat. Tanpa menoleh, ia menjawab, “Tidak, Keisha. Kamu baru kehilangan aku. Jangan sampai kamu juga kehilangan kesempatan untuk memperbaiki dirimu.” Lalu ia pergi bersama Ibu Sari, meninggalkan pesta pertunangan yang gagal—tetapi membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga: kehormatan seorang ibu yang akhirnya dibela di hadapan semua orang.
Comments (0)
Loading comments...
















