Logo

02-WANITA YANG SUDAH “MATI” TIBA-TIBA MUNCUL

Article image

Vanessa berdiri membeku di tengah teras, wajahnya pucat seperti kehilangan seluruh darah. Arman menatapnya tanpa berkedip, sementara Nadia menangis dalam diam dan Raka memeluk lengannya erat. Beberapa tamu mulai berbisik, tetapi Arman mengangkat tangan dan suasana kembali sunyi. “Jawab aku, Vanessa. Siapa yang kami kuburkan enam tahun lalu?” suaranya rendah, namun tajam. Vanessa menelan ludah. “Arman, jangan percaya hanya karena tanda lahir itu.” Raka langsung berteriak sambil menangis, “Dia Ibu! Aku tahu suaranya!” Nadia akhirnya jatuh berlutut, menutup wajahnya. Arman mendekat dan berkata, “Nadia, kalau kamu benar istriku, katakan sesuatu yang hanya kita berdua tahu.” Nadia mengangkat wajah dengan air mata mengalir deras. “Malam sebelum Raka lahir, kamu berjanji akan menanam pohon kamboja putih untuknya di halaman belakang.” Tubuh Arman seketika kaku. Tidak seorang pun tahu tentang janji itu selain dirinya dan Nadia. Dengan napas gemetar ia berbisik, “Ya Tuhan… benar-benar kamu.”

Vanessa mundur satu langkah, tetapi dua petugas keamanan segera berdiri di belakangnya. Nadia menggenggam tangan Raka dan berusaha berdiri. “Aku tidak mati, Arman,” katanya dengan suara patah. “Malam kecelakaan itu aku masih hidup.” Arman menatapnya penuh keterkejutan. “Lalu kenapa kamu tidak pulang?” Nadia memandang Vanessa, dan ketakutan di wajah tunangan Arman semakin jelas. “Karena seseorang membawaku keluar dari rumah sakit sebelum aku sadar sepenuhnya.” Vanessa langsung menyela, “Dia berbohong!” Nadia menggeleng. “Aku kehilangan sebagian ingatanku selama berbulan-bulan. Mereka memberiku nama baru dan mengatakan keluargaku sudah tidak menginginkanku.” Arman mengepalkan tangan. “Siapa mereka?” Nadia menjawab pelan, “Aku hanya ingat seorang wanita datang berkali-kali. Parfumnya sama seperti yang dipakai Vanessa malam ini.” Seluruh tamu menoleh serempak. Vanessa berteriak, “Itu tidak membuktikan apa pun!” Arman melangkah mendekat. “Mungkin tidak. Tapi ketakutanmu sejak tanda lahir itu terlihat membuktikan bahwa kamu tahu sesuatu.”

Tiba-tiba seorang pria tua berjas abu-abu yang sejak tadi berdiri di dekat pintu villa maju ke depan. Ia adalah dokter keluarga Arman yang dulu menangani kecelakaan Nadia. Tangannya gemetar saat mengeluarkan sebuah amplop. “Pak Arman, saya sudah terlalu lama diam.” Arman menatapnya tajam. “Apa maksud Anda?” Dokter itu membuka amplop berisi salinan catatan rumah sakit lama. “Enam tahun lalu, Nadia dinyatakan dalam kondisi kritis, bukan meninggal. Tetapi beberapa jam kemudian saya menerima dokumen kematian baru dengan tanda tangan palsu.” Arman membalikkan wajah ke Vanessa. “Siapa yang menyerahkan dokumen itu?” Dokter menjawab, “Seorang pengacara yang bekerja untuk keluarga Vanessa.” Vanessa langsung berteriak, “Bohong!” Dokter itu menatapnya dengan penyesalan. “Saya dibayar untuk diam. Saya pengecut. Tapi saya masih menyimpan salinannya.” Arman meremas kertas itu. “Dan mayat dalam peti?” Dokter menarik napas panjang. “Seorang perempuan tak dikenal dari kecelakaan lain malam itu. Identitasnya tidak pernah ditemukan.”

Nadia menutup mulutnya, sementara Arman hampir kehilangan keseimbangan. “Jadi aku menguburkan orang asing dan percaya istriku sudah mati?” katanya dengan suara bergetar. Dokter mengangguk. Vanessa tiba-tiba mencoba berjalan pergi, namun petugas keamanan menghalanginya. “Minggir!” bentaknya. Arman menatapnya penuh kemarahan. “Tidak ada yang pergi sampai semuanya jelas.” Vanessa menoleh dengan mata merah. “Aku melakukan semua itu karena aku mencintaimu!” Kalimat itu membuat seluruh tamu terdiam. Nadia memandangnya tak percaya. Vanessa mulai menangis. “Keluargamu tidak akan pernah menerima aku selama Nadia masih ada. Setelah kecelakaan, ayahku berkata ini kesempatan terakhir.” Arman mendekat, suaranya dingin. “Jadi kalian memalsukan kematiannya?” Vanessa menjerit, “Aku tidak membunuhnya! Aku hanya setuju agar dia dibawa pergi!” Raka memeluk Nadia lebih erat dan berkata, “Kamu mengambil Ibu dariku.” Vanessa membeku. Tidak ada jawaban yang mampu membela dirinya.

Beberapa menit kemudian, sirene terdengar dari jalan menuju villa. Salah satu petugas keamanan ternyata sudah menghubungi polisi sejak dokter menunjukkan dokumen tersebut. Vanessa menatap Arman dengan panik. “Tolong jangan biarkan mereka membawaku. Aku bisa menjelaskan semuanya.” Arman menjawab tanpa emosi, “Enam tahun adalah waktu yang cukup untuk menjelaskan.” Vanessa menangis sambil meraih lengannya, tetapi Arman mundur. “Kamu membuat anakku tumbuh tanpa ibunya. Kamu membuatku berkabung di depan makam orang asing.” Polisi masuk ke area pesta dan meminta Vanessa ikut untuk diperiksa bersama dokumen yang ada. Sebelum dibawa pergi, Vanessa menoleh kepada Nadia. “Aku tidak pernah bermaksud menghancurkan hidupmu.” Nadia memandangnya lama. “Tapi kamu tetap melakukannya.” Polisi lalu membawanya pergi di depan para tamu. Untuk pertama kalinya malam itu, Raka tersenyum di tengah air matanya dan berkata, “Ibu tidak pergi lagi, kan?” Nadia memeluknya erat. “Tidak. Ibu tidak akan pergi lagi.”

Setelah keramaian mereda, Arman, Nadia, dan Raka berdiri di tepi kolam dengan langit Bali yang semakin gelap. Arman tampak ingin mendekat, tetapi Nadia menjaga jarak. “Aku tidak tahu bagaimana meminta maaf,” katanya. Nadia menghela napas panjang. “Kamu tidak perlu meminta maaf karena percaya aku sudah mati. Tapi enam tahun tidak bisa kembali hanya dalam satu malam.” Arman menunduk. “Aku tahu.” Raka menggenggam tangan mereka berdua dan menyatukannya. “Kalau Ayah dan Ibu marah, marahnya besok saja. Malam ini aku mau punya keluarga lagi.” Nadia tertawa kecil di antara tangisnya. Arman pun tersenyum untuk pertama kalinya. “Kita tidak harus memaksa semuanya kembali seperti dulu,” katanya. “Kita bisa mulai dari awal.” Nadia menatapnya. “Pelan-pelan.” Arman mengangguk. “Pelan-pelan.” Raka langsung memeluk keduanya. “Yang penting Ibu pulang.”

Beberapa bulan kemudian, penyelidikan resmi membuktikan bahwa Vanessa dan ayahnya memang terlibat dalam pemalsuan dokumen kematian dan pemindahan Nadia secara ilegal setelah kecelakaan. Dokter yang membantu mereka juga menyerahkan diri dan menjadi saksi utama. Pada suatu pagi, Arman membawa Nadia dan Raka ke makam yang selama enam tahun mereka kira miliknya. Arman berdiri lama di depan batu nisan itu lalu berkata, “Aku datang ke sini ratusan kali untuk bicara denganmu.” Nadia menggenggam tangannya. “Sekarang bicara padaku langsung.” Arman menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku masih mencintaimu.” Nadia tersenyum tipis. “Kalau begitu, buktikan dengan menjadi ayah terbaik untuk Raka terlebih dahulu.” Raka tertawa dan berseru, “Ayah dengar itu!” Mereka bertiga lalu berjalan meninggalkan makam bersama. Di halaman rumah mereka, pohon kamboja putih yang pernah dijanjikan Arman akhirnya ditanam. Nadia menyentuh bunganya dan berkata, “Enam tahun terlambat.” Arman menjawab, “Tapi akhirnya tumbuh.” Raka memeluk mereka dari tengah. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, keluarga itu tidak lagi hidup bersama sebuah makam, melainkan dengan kesempatan kedua.

Comments (0)

Loading comments...

N10INDO Gerobak Kopinya Dihancurkan Polisi, Namun Putra Pak Hasan Bukan Orang Biasa
Pak Hasan menutup telepon tanpa menjelaskan apa pun. Ia kembali berjongkok, memunguti sachet kopi yang berserakan, sementara tiga polisi itu menghilang di ujung jalan. Belum lima menit berlalu, suara beberapa kendaraan berhenti serempak di depan warung. Para pedagang sekitar terdiam ketika sejumlah petugas berpakaian rapi turun dengan wajah serius. Ardi, Bima, dan Dimas yang masih tertawa di seberang jalan langsung berhenti. Seorang perwira senior memanggil tegas, “Kalian bertiga, kembali ke sini sekarang.” Wajah Ardi berubah tegang. Ia mencoba tersenyum santai sambil berkata, “Komandan, hanya ada sedikit salah paham.” Namun perwira itu bahkan tidak membalas senyumnya. Dari kendaraan terakhir, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun turun cepat. Begitu melihat gerobak terbalik, wajahnya menegang dan langkahnya langsung menuju Pak Hasan. Pria itu berhenti di hadapan lelaki tua tersebut, lalu berkata dengan suara berat, “Ayah, mereka melakukan ini?” Seluruh jalan mendadak sunyi mendengar satu kata itu. Ardi membeku. Bima perlahan menurunkan tongkatnya, sementara Dimas kehilangan senyum. Mereka akhirnya menyadari lelaki miskin yang dihina tadi ternyata ayah seseorang berpengaruh. Pak Hasan tidak langsung menjawab. Ia menunjuk gelas hancur dan gerobak yang terbalik. “Mereka bukan menghina saya saja. Mereka menghina seragam yang mereka kenakan.” Putranya menatap ketiga polisi itu dengan tajam, tetapi tetap tenang. “Saya tidak datang untuk membalas dendam. Saya datang memastikan semuanya diperiksa secara resmi.” Seorang petugas membuka rekaman kamera toko di dekat lokasi. Dalam video terlihat jelas Ardi menyapu gelas, Bima memukul gerobak, dan ketiganya menjatuhkannya bersama-sama. Bima mulai panik. “Pak, kami hanya bercanda.” Pak Hasan menatapnya datar dan menjawab, “Bercanda tidak membuat orang kehilangan penghasilan untuk memberi makan keluarganya.” Dimas mencoba menyela, tetapi perwira senior langsung menghentikannya. “Tidak ada alasan. Semua tindakan kalian sudah terekam, termasuk ucapan kalian kepada warga sipil.” Ardi akhirnya menunduk. Kesombongan yang tadi memenuhi wajahnya hilang sepenuhnya. Para pedagang yang selama ini takut mulai berani berdiri mendekati gerobak Pak Hasan. Putra Pak Hasan kemudian memerintahkan proses pemeriksaan disiplin dilakukan tanpa perlakuan khusus. Ketiga polisi itu diminta menyerahkan tongkat, identitas dinas, dan mengikuti pemeriksaan resmi. Pak Hasan justru menghentikan warga yang ingin mencaci mereka. “Jangan lakukan kepada mereka apa yang mereka lakukan kepada saya. Keadilan tidak membutuhkan penghinaan.” Ucapan itu membuat suasana semakin hening. Ardi menatap lelaki tua tersebut dengan rasa malu yang nyata, lalu perlahan berkata, “Pak Hasan… saya benar-benar keterlaluan.” Pak Hasan menjawab tenang, “Permintaan maaf baru berarti kalau setelah hari ini kalian memperlakukan pedagang kecil sebagai manusia, bukan sebagai orang yang bisa kalian injak.” Beberapa hari kemudian, gerobak kopi Pak Hasan diperbaiki sepenuhnya. Para pedagang sekitar membantu mengecatnya, sementara warga yang mengetahui kisahnya datang membeli kopi sejak pagi. Ketiga polisi itu menjalani proses disiplin dan diwajibkan mengganti seluruh kerugian. Pak Hasan menerima uang tersebut, tetapi menolak satu rupiah pun melebihi kerusakan sebenarnya. Saat membuka gerobaknya kembali, Pak Hasan tersenyum kepada pelanggan pertama. “Kekuasaan bisa membuat orang ditakuti, tapi hanya sikap benar yang membuat seseorang dihormati.”