019idm-Dia Menghina Kakak Iparnya Karena Miskin… Lalu Bos Besarnya Membungkuk di Depannya

Zhenyu masih terduduk di lantai ketika Zhou Weiming menatap Haoran dengan hormat. Suasana pesta membeku, sementara para tamu mulai berbisik tentang identitas pria sederhana itu.
Haoran membantu Yaru berdiri lebih tegak, lalu berkata tenang, “Aku tidak pernah menyembunyikan diriku untuk menipu siapa pun. Aku hanya ingin hidup tanpa nama keluargaku.”
Wajah Xinyue memucat. Ia menatap kakaknya dengan gemetar. Selama bertahun-tahun, ia membanggakan kekayaan keluarga, namun lelaki yang barusan dihina ternyata jauh lebih berkuasa.
Zhou kemudian menghadap para tamu. “Tuan Muda Haoran adalah pewaris utama Chen Group. Seluruh investasi perusahaan kami di Shanghai berada di bawah keputusan akhirnya.”
Zhenyu seperti kehilangan napas. Perusahaan tempatnya bekerja ternyata bergantung pada Haoran. Ia merangkak mendekat dan berkata, “Tuan Chen, saya benar-benar tidak tahu siapa Anda.”
Haoran menatapnya tanpa kemarahan. “Kalau kau tahu siapa aku sejak awal, apakah kau akan memperlakukanku berbeda? Kalau jawabannya ya, justru itulah masalah sebenarnya.”
Kalimat itu membuat ruangan sunyi. Para tamu yang sebelumnya tersenyum mengejek mulai menundukkan kepala, sadar bahwa mereka telah menilai seseorang hanya dari pakaian sederhana.
Xinyue mendekati Yaru sambil menangis. “Kak, maafkan aku. Aku keterlaluan.” Namun Yaru mundur perlahan. Luka karena penghinaan adiknya belum semudah itu dihapus.
“Aku tidak marah karena kau menghinaku,” jawab Yaru. “Aku kecewa karena kau merasa manusia boleh direndahkan hanya karena terlihat tidak memiliki uang.”
Zhenyu buru-buru bangkit dan membungkuk kepada Haoran. “Saya akan meminta maaf di depan semua orang.” Haoran menggeleng. “Permintaan maafmu seharusnya bukan karena takut kehilangan pekerjaan.”
Zhou mengeluarkan sebuah berkas dari asistennya. Ternyata pagi itu Zhenyu dijadwalkan mendapat promosi besar. Semua mata tertuju kepadanya ketika Zhou membuka halaman terakhir.
“Promosi ini membutuhkan persetujuan Tuan Muda,” ujar Zhou. Tangan Zhenyu langsung gemetar. Namun Haoran tidak menyentuh dokumen itu dan malah meminta Zhou menyimpannya kembali.
“Aku tidak akan menghancurkan karier seseorang karena dia mempermalukanku,” kata Haoran. “Tapi orang yang memimpin ribuan karyawan harus belajar menghormati mereka yang tak bisa memberinya keuntungan.”
Zhenyu menunduk dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, kesombongannya runtuh bukan karena takut kepada kekuasaan Haoran, melainkan karena menyadari betapa buruk dirinya di hadapan semua orang.
Haoran lalu menggenggam tangan Yaru. Ia mengaku sengaja hidup sederhana setelah keluar dari rumah keluarganya, karena ingin mengetahui siapa yang mencintainya tanpa kekayaan dan nama besar.
Yaru menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Jadi selama ini kau mengujiku?” Haoran menggeleng. “Tidak. Aku sedang menguji diriku sendiri, apakah aku bisa dicintai sebagai Haoran biasa.”
Yaru tersenyum sambil menangis. “Aku menikahimu saat kau hanya punya dua kemeja.” Haoran tertawa kecil. “Dan kau masih mengeluh karena salah satunya sudah berlubang.”
Ketegangan ruangan akhirnya pecah menjadi tawa kecil. Namun Xinyue justru menangis semakin keras, menyadari kakaknya memperoleh sesuatu yang tidak pernah mampu dibeli oleh kemewahan mana pun.
Sebelum pergi, Haoran menatap Xinyue dan Zhenyu. “Aku tidak membutuhkan kalian berlutut. Mulai besok, perlakukan setiap orang seperti kalian memperlakukanku setelah mengetahui namaku.”
Haoran dan Yaru meninggalkan ballroom bergandengan tangan. Di belakang mereka, Zhenyu dan Xinyue hanya terdiam, sementara seluruh ruangan akhirnya memahami siapa yang sebenarnya paling kaya malam itu.
Comments (0)
Loading comments...

















