016tid-Dia Bersembunyi di Bawah Ranjang… Tapi Pria Itu Mengenali Wajahnya!

Raka berdiri membeku di antara dua perempuan itu, seolah seluruh kemewahan kamar tersebut mendadak berubah menjadi ruang pengadilan yang pengap. Tatapannya berpindah dari Kirana, perempuan yang selama tiga tahun ia cintai dan rencanakan untuk dinikahi, menuju Alya, adik kandung yang sejak kecil selalu ia lindungi. Alya akhirnya merangkak keluar dari bawah ranjang dengan tubuh gemetar. “Kak… dengarkan aku dulu,” katanya sambil menangis. Raka mundur satu langkah, wajahnya pucat. “Dengarkan apa? Kau bersembunyi di bawah ranjang perempuan yang akan menjadi istriku!” Kirana mencoba mendekat, tetapi Raka mengangkat tangan, menghentikannya. “Jangan sentuh aku. Malam ini aku ingin mendengar kebenaran, bukan satu kebohongan lagi.”
Alya menangis semakin keras, namun tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku gaunnya. “Aku memang masuk diam-diam, tapi bukan untuk mengkhianatimu,” katanya. Kirana langsung berubah panik. “Alya, diam!” serunya. Raka menatap keduanya dengan bingung. Alya menekan layar ponsel dan memperlihatkan rekaman percakapan yang ia ambil beberapa menit sebelumnya. Dalam rekaman itu terdengar suara Kirana berbicara kepada seorang pria melalui telepon tentang pemindahan uang perusahaan keluarga Raka ke rekening rahasia. Raka menatap Kirana dengan mata merah. “Jadi… ini bukan soal perselingkuhan?” Alya menggeleng sambil terisak. “Aku menemukan bukti bahwa dia sudah berbulan-bulan mencuri dari perusahaan kita. Aku datang untuk merekam pengakuannya.”
Wajah Kirana seketika kehilangan warna. Ia mencoba merebut ponsel itu, tetapi Alya mundur. “Kau pikir kau bisa menghancurkanku dengan rekaman itu?” bentak Kirana, tak lagi berpura-pura lembut. Raka seperti baru melihat wajah asli perempuan di hadapannya. Alya membuka file lain. Kali ini terdengar Kirana berkata bahwa setelah menikah dengan Raka, ia akan memperoleh akses penuh ke saham keluarga dan perlahan menyingkirkan Alya dari perusahaan. “Dia juga berencana memfitnahku sebagai pencuri,” ujar Alya. Raka menatap Kirana dengan napas berat. “Semua makan malam keluarga, semua air mata, semua rencana pernikahan kita… hanya jalan menuju hartaku?” Kirana terdiam beberapa detik, lalu menjawab dingin, “Cinta tidak pernah membayar tagihan, Raka.”
Kalimat itu seperti mematahkan sisa perasaan yang masih bertahan di dalam dada Raka. Ia berjalan menuju meja rias, mengambil kotak cincin pertunangan yang masih tersimpan di sana, lalu meletakkannya tepat di depan Kirana. “Kau benar,” katanya lirih. “Cinta tidak membayar tagihan. Tapi pengkhianatan juga tidak memberimu hak atas hidupku.” Kirana mulai menangis dan berusaha kembali memainkan perannya. “Raka, aku melakukan ini karena aku takut kehilangan semuanya!” Raka menatapnya tajam. “Tidak. Kau takut kehilangan kemewahan yang belum pernah menjadi milikmu.” Kemudian ia mengambil ponselnya. “Mulai malam ini, semua aksesmu ke rekening, kartu, dan perusahaan dihentikan. Besok, pengacaraku akan menyerahkan rekaman ini kepada polisi.”
Kirana jatuh terduduk di tepi ranjang. Kesombongannya lenyap, digantikan ketakutan. “Kau tidak bisa melakukan ini! Aku sudah mengorbankan tiga tahun hidupku untukmu!” teriaknya. Raka tertawa pendek tanpa kebahagiaan. “Mengorbankan? Kau tinggal di rumahku, memakai namaku, menghabiskan uang keluargaku, lalu merencanakan kejatuhanku.” Alya mendekati kakaknya dengan ragu. “Kak, maaf karena aku tidak memberitahumu sejak awal. Aku takut kau tidak akan percaya.” Raka menatap adiknya lama sekali sebelum akhirnya memeluknya erat. “Aku memang bodoh karena terlalu percaya padanya,” bisiknya. “Tapi kau tetap adikku. Seharusnya kau tidak menghadapi semua ini sendirian.”
Ketika Raka hendak membawa Alya keluar, Kirana tiba-tiba berdiri dan berteriak, “Kalau aku jatuh, keluargamu juga akan ikut jatuh!” Mereka berhenti. Kirana tersenyum pahit, lalu berkata bahwa ia telah mengirim salinan dokumen perusahaan kepada rekan bisnis yang selama ini membantunya. Namun Alya justru menghapus air matanya dan menatap Kirana dengan tenang. “Maksudmu dokumen palsu yang sengaja kami biarkan kau ambil?” Kirana membeku. Raka menoleh kepada Alya. “Apa?” Alya mengangkat ponselnya. “Ayah sudah curiga sejak dua bulan lalu. Semua dokumen penting telah dipindahkan. Yang dia curi hanyalah umpan.” Raka akhirnya memahami semuanya. Kirana berbisik gemetar, “Kalian menjebakku…” Alya menjawab, “Tidak. Kami hanya memberimu kesempatan untuk menunjukkan siapa dirimu sebenarnya.”
Beberapa saat kemudian, suara langkah petugas keamanan terdengar dari koridor. Raka membuka pintu kamar dan meminta mereka mengawal Kirana keluar dari rumah. Kirana menangis, memohon, bahkan mencoba memanggil namanya sekali lagi. “Raka, tolong… aku masih mencintaimu!” Raka tidak menoleh. “Orang yang mencintai tidak merencanakan kehancuran orang yang dicintainya.” Kirana akhirnya dibawa pergi, meninggalkan kamar yang kini terasa kosong meski dipenuhi barang-barang mahal. Alya menggenggam tangan kakaknya. “Kak, kau kehilangan seseorang malam ini.” Raka menatap cincin yang tertinggal di meja, lalu memandang adiknya. “Tidak, Alya. Aku justru menemukan siapa keluargaku yang sebenarnya.” Untuk pertama kalinya malam itu, ia menarik napas tanpa rasa takut. Pengkhianatan telah menghancurkan rencana pernikahannya, tetapi kebenaran menyelamatkan keluarganya sebelum semuanya terlambat.
Comments (0)
Loading comments...


















