013TID Di Pesta Miliarder, Seorang Bocah Tiba-Tiba Memanggil Pelayan Itu “Mama”

Keheningan di ballroom itu terasa lebih tajam daripada suara pecahan kristal di lantai. Semua mata tertuju pada Nadine, sementara Arga berdiri beberapa langkah dari Laras dengan wajah pucat dan air mata yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Raka menggenggam tangan Laras erat-erat, seolah takut perempuan itu akan menghilang lagi. Nadine mencoba tersenyum, tetapi bibirnya gemetar. “Arga, jangan membuat kesimpulan hanya karena sebuah bekas luka,” katanya. Arga menatapnya tanpa berkedip. “Aku bertanya satu hal, Nadine. Kalau Laras masih hidup, siapa perempuan yang kumakamkan lima tahun lalu?” Laras akhirnya mengangkat wajahnya. Dengan suara serak ia berkata, “Bukan aku yang seharusnya berada di makam itu. Malam itu… seseorang membuat semua orang percaya bahwa aku telah mati.” Nadine mundur selangkah. Arga langsung menangkap perubahan wajahnya. “Dan kau tahu siapa orang itu, bukan?”
Para tamu mulai berbisik, tetapi Arga mengangkat tangan dan seluruh ruangan kembali diam. Laras menarik napas panjang, lalu menatap Nadine dengan luka lama yang selama bertahun-tahun ia pendam. “Setelah kecelakaan itu, aku sadar di sebuah rumah perawatan pribadi di luar Jakarta. Aku kehilangan ingatan selama berbulan-bulan. Ketika ingatanku kembali, aku mencoba pulang, tetapi semua dokumenku sudah dihapus dan namaku tercatat sebagai orang meninggal.” Nadine tiba-tiba memotong, “Dia berbohong!” Laras menoleh tajam. “Kalau aku berbohong, mengapa kau mengirim orang untuk mencariku tiga minggu lalu?” Nadine membeku. Arga mendekat. “Apa maksudmu?” Laras mengeluarkan sebuah amplop kecil dari saku seragamnya. “Aku menyimpan pesan yang kuterima. Pesannya berbunyi, ‘Pergilah dari Jakarta kalau kau ingin anakmu tetap aman.’” Raka memeluk pinggang Laras sambil menangis. “Mama jangan pergi lagi.” Laras berlutut dan membalas pelukannya. “Tidak, Nak. Mama tidak akan pergi lagi.”
Arga mengambil amplop itu dengan tangan bergetar. Di dalamnya terdapat salinan pesan, bukti transfer, dan foto seorang pria yang selama bertahun-tahun bekerja untuk keluarga Nadine. Wajah Nadine semakin pucat. “Ini bisa dipalsukan,” katanya terburu-buru. Namun seorang pria tua dari antara para tamu tiba-tiba maju. Ia adalah dokter keluarga Arga yang menangani kecelakaan Laras lima tahun lalu. “Tidak semuanya palsu,” katanya pelan. Semua orang menoleh. Arga menatapnya tajam. “Dokter, apa yang Anda ketahui?” Pria itu menundukkan kepala. “Saya diperintahkan untuk menandatangani laporan kematian berdasarkan identitas yang diberikan kepada rumah sakit. Saya tidak pernah melihat wajah korban di kamar jenazah.” Arga tercekat. “Siapa yang memberi identitas itu?” Dokter menatap Nadine dengan rasa bersalah. “Asisten pribadi keluarga Nadine.” Nadine langsung berteriak, “Kalian sedang menjebakku!” Arga menjawab dingin, “Tidak, Nadine. Untuk pertama kalinya, semua kebohonganmu mulai memiliki nama.”
Laras kemudian mengeluarkan sebuah liontin kecil berbentuk bulan sabit dari balik kerah seragamnya. Ketika Arga melihatnya, lututnya hampir kehilangan kekuatan. Itu adalah hadiah yang ia berikan kepada Laras pada malam kelahiran Raka. “Aku pikir liontin itu terkubur bersamamu,” bisik Arga. Laras menangis. “Aku membawanya setiap hari, karena saat aku tidak mengingat siapa diriku, benda ini satu-satunya hal yang membuatku merasa bahwa seseorang sedang menungguku.” Raka menyentuh liontin itu dan berkata polos, “Mama pernah menunjukkan ini kepadaku waktu aku masih kecil.” Arga akhirnya tidak mampu menahan dirinya. Ia mendekat dan memeluk Laras serta Raka sekaligus. “Aku mencari jawaban selama lima tahun,” katanya dengan suara pecah. “Aku bahkan menyalahkan diriku sendiri karena tidak bisa menyelamatkanmu.” Laras berbisik, “Aku juga mencoba kembali kepadamu, Arga. Tapi setiap kali aku mendekat, selalu ada orang yang mengancamku.” Arga perlahan melepaskan pelukan dan menatap Nadine. “Dan sekarang aku tahu dari mana ancaman itu datang.”
Nadine mulai kehilangan kendali. “Aku melakukan semuanya karena aku mencintaimu!” serunya. Ruangan kembali bergemuruh oleh keterkejutan. Arga menatapnya seolah tidak mengenal perempuan yang selama ini akan dinikahinya. Nadine menangis sambil berkata, “Laras selalu menjadi bayangan di antara kita. Bahkan setelah semua orang percaya dia mati, kau tetap mencintainya! Aku hanya ingin kesempatan.” Laras berdiri perlahan. “Kesempatan tidak dibangun dari makam palsu dan seorang anak yang kehilangan ibunya.” Nadine menatap Laras penuh putus asa. “Aku tidak pernah bermaksud membuatmu menghilang selamanya!” Kalimat itu membuat seluruh ballroom sunyi. Arga langsung bertanya, “Jadi kau mengaku?” Nadine sadar ia telah salah bicara. “Bukan begitu maksudku…” Arga memotongnya, “Tidak perlu lagi. Semua orang mendengarnya.” Ia memberi isyarat kepada kepala keamanan. “Pastikan Nadine tidak meninggalkan hotel sebelum polisi datang.” Nadine menjerit, “Arga!” Tetapi Arga hanya menjawab, “Lima tahun lalu kau mengambil keluargaku. Malam ini, kau tidak akan mengambil kebenaran juga.”
Beberapa saat kemudian, Raka berdiri di antara kedua orang tuanya, masih menggenggam tangan mereka. Anak itu memandang Laras dengan mata merah karena menangis. “Mama… kenapa Mama tidak pulang lebih cepat?” Laras berjongkok di depannya dan menyentuh pipinya dengan lembut. “Karena Mama tersesat sangat lama, Sayang. Tapi setiap hari, hati Mama selalu mencoba mencari jalan pulang kepadamu.” Raka memeluknya kuat-kuat. “Kalau begitu jangan pernah tersesat lagi.” Arga ikut berlutut, air matanya jatuh tanpa malu. “Mulai malam ini, kita tidak akan terpisah lagi karena kebohongan siapa pun.” Laras menatap Arga, masih ragu. “Banyak hal sudah berubah selama lima tahun.” Arga mengangguk. “Aku tidak meminta kita kembali seperti dahulu dalam satu malam. Aku hanya meminta kesempatan untuk mengenalmu lagi, tanpa kebohongan, tanpa makam palsu, tanpa ketakutan.” Laras tersenyum di antara air matanya. “Kalau Raka memberi kita kesempatan… aku juga akan mencoba.” Raka segera menyahut, “Aku kasih seribu kesempatan!”
Beberapa bulan kemudian, makam yang selama lima tahun bertuliskan nama Laras akhirnya dibuka secara resmi dalam penyelidikan. Identitas perempuan yang dimakamkan di sana berhasil ditemukan dan keluarganya mendapatkan kebenaran yang selama ini dirampas dari mereka. Nadine beserta orang-orang yang membantunya menghadapi proses hukum, sementara Laras perlahan membangun kembali hidupnya dan hubungannya dengan Raka. Pada suatu sore, di taman rumah Arga, Raka berlari membawa tiga cangkir cokelat hangat dan berseru, “Ayah, Mama, cepat! Nanti keburu dingin!” Arga tertawa untuk pertama kalinya tanpa beban. Ia menatap Laras dan berkata, “Dulu aku pikir kehilanganmu adalah akhir hidupku.” Laras menggenggam tangannya. “Mungkin itu bukan akhir. Mungkin kita hanya dipaksa melewati jalan yang sangat panjang untuk menemukan rumah lagi.” Raka menyelip di antara mereka dan berkata, “Rumah itu di sini, kan?” Laras mencium keningnya. “Iya, Sayang. Rumah adalah tempat kita tidak perlu takut kehilangan satu sama lain lagi.” Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun, Arga, Laras, dan Raka berdiri bersama bukan sebagai kenangan yang hancur, melainkan sebagai keluarga yang akhirnya mendapatkan kembali kebenaran, keadilan, dan kesempatan kedua yang selama ini direnggut dari mereka.
Comments (0)
Loading comments...

















