011idm-Pengantin Ini Tetap Menikahi Pria yang Tak Sadarkan Diri… Lalu Monitor Jantungnya Tiba-Tiba Berubah

Bunyi monitor semakin cepat. Laras menatap Adrian dengan napas tertahan, lalu menggenggam tangannya erat. “Adrian, kalau kamu mendengarku, bertahanlah. Aku akan menemukan siapa pelakunya.”
Dokter yang berjaga segera mendekat dan memeriksa monitor. Ia meminta semua orang tetap tenang, sementara Laras terus memanggil Adrian dengan suara bergetar penuh harapan.
Tiba-tiba jari Adrian bergerak sangat pelan. Laras membeku. Dokter langsung memeriksa responsnya, lalu berkata, “Ada reaksi. Jangan berhenti bicara dengannya. Dia mungkin mendengarmu.”
Di tengah kegembiraan itu, Ibu Ratih justru terlihat ketakutan. Ia mundur beberapa langkah sambil menatap seorang pria berjas abu-abu yang berdiri di antara tamu.
Laras mengikuti arah pandangannya. Pria itu bernama Bima, sepupu Adrian sekaligus direktur keuangan perusahaan keluarga. Wajahnya pucat ketika menyadari Laras sedang memperhatikannya.
“Ibu Ratih, kenapa Ibu mencoba menghentikan pernikahan ini?” tanya Laras tajam. Ratih menangis. “Karena orang yang mencelakai Adrian ada di ruangan ini.”
Seluruh ballroom langsung sunyi. Bima berusaha pergi, tetapi dua petugas keamanan menutup pintu utama. Laras menatapnya dan bertanya, “Kenapa kamu mau pergi sekarang?”
Bima tersenyum kaku. “Aku hanya tidak tahan melihat keadaan Adrian.” Namun Ratih mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rekaman kamera dari garasi rumah Adrian.
Rekaman itu memperlihatkan Bima memasuki garasi malam sebelum kecelakaan. Beberapa menit kemudian, ia terlihat membungkuk lama di dekat roda depan mobil milik Adrian.
Bima langsung membantah. “Itu tidak membuktikan apa pun!” Ratih menjawab, “Benar. Karena itu aku juga membawa pesan yang kamu kirim kepada mekanik bayaranmu.”
Ratih memperlihatkan percakapan tentang pembayaran besar setelah “pekerjaan mobil” selesai. Para tamu terdiam. Laras menahan tangis sambil memandang Bima dengan kemarahan yang semakin dalam.
Bima akhirnya kehilangan kendali. Ia berteriak bahwa Adrian seharusnya tidak mendapatkan seluruh perusahaan keluarga. Menurutnya, Adrian telah mengambil kehidupan yang seharusnya menjadi miliknya.
Saat keamanan hendak menangkapnya, Bima menunjuk Ratih. “Dia juga tahu rencanaku!” Ratih menangis keras, mengakui bahwa ia memang mengetahui ancaman itu terlambat.
Ratih menjelaskan bahwa ia datang menghentikan pernikahan karena takut Bima akan mencelakai Laras berikutnya. Ia tidak berani bicara sebelumnya karena keluarganya diancam Bima.
Laras menatap Ratih dengan mata basah. “Seharusnya Ibu mengatakan semuanya sejak awal.” Ratih mengangguk sambil menangis. “Aku takut, dan ketakutanku hampir membunuh Adrian.”
Polisi yang dipanggil keamanan tiba beberapa menit kemudian. Bima dibawa pergi setelah bukti digital diamankan, sementara Ratih menyerahkan seluruh pesan dan rekaman yang selama ini disembunyikannya.
Di tengah kekacauan itu, suara monitor Adrian kembali berubah. Kelopak matanya perlahan bergerak. Laras langsung berlari ke sisinya dan berbisik, “Adrian, aku di sini.”
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, Adrian membuka matanya sedikit. Ia menatap Laras dengan pandangan lemah dan berbisik, “Aku dengar semuanya… termasuk tentang rem mobil.”
Laras menangis dan mencium tangannya. Adrian kemudian menatap cincin di jari Laras. “Kamu benar-benar tetap memilihku?” Laras tersenyum di balik air mata. “Selalu.”
Beberapa bulan kemudian, Adrian pulih dan kembali berjalan bersama Laras. Bima dihukum, Ratih menjadi saksi utama, dan pasangan itu mengulang janji pernikahan mereka—kali ini tanpa ketakutan.
Comments (0)
Loading comments...

















